• Abraham Sempurna
  • BBC Indonesia

Didorong semangat gotong royong, suatu wadah berbagi pendapatan antarwarga digagas sekelompok anak muda untuk membantu kondisi keuangan para pekerja dengan terdampak pandemi Covid-19.

Wadah daring bertajuk Bagirata. id yang diluncurkan awal April lalu itu telah menjadi perantara ‘redistribusi kekayaan’ lebih dari Rp300 juta kepada bertambah dari seribu pekerja.

Lewat medium ini, pengendara ojek online hingga seniman mengaku sudah menerima bantuan uang dari orang-orang yang masih berpenghasilan selama pandemi.

Merujuk riset Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI), mayoritas praktisi yang kehilangan pekerjaan selama wabah berusia 15-29 tahun.

Dijalankan dengan kreativitas dan kolektivitas, wadah berbagi non-profit seperti ini dinilai menjelma harapan nyata di tengah program bantuan pemerintah yang kerap tersangkut birokrasi dan tidak tepat bahan.

Indra adalah seorang pramusaji di suatu hotel di Bandung, Jawa Barat. Saat pembatasan sosial berskala tinggi diterapkan, tempatnya bekerja berhenti berfungsi. Pemuda ini dirumahkan untuk sementara waktu, tanpa upah.

“Tidak ada penghasilan sama sekali. Akhirnya waktu kamar puasa itu saya bantu terbuka warung teman, dari malam sampai subuh. Bayarannya, saya dapat makan satu kali, ” ujarnya.

Indra berkata, ia terus berusaha berpikir membangun. Sampai pada 22 Juni semrawut, ia diminta menghadap atasannya pada kantor. Di akhir pertemuan tersebut, bukannya bungah, Indra justru kalut.

Manajemen hotel, kata dia, ingin bersemuka hanya untuk mengucapkan salam perpisahan. Kontrak kerja Indra berakhir Juni itu. Tidak ada pembaruan.

“Sampai sekarang belum dapat pekerjaan baru. Padahal saya sudah ada rencana periode, bulan September menikah. Biaya menikahnya memang murah, tapi saya tidak tahu bagaimana hidup di bulan-bulan berikutnya, ” ucapnya.

“Apalagi aku juga punya cicilan untuk bentuk rumah orang tua, ” kata Indra.

Menurut sosiolog Dorothy A. Miller dalam kajian berjudul The ‘sandwich’ generation: adult children of the aging yang terbit tahun 1981, Indra masuk kategori generasi roti salut.

Artinya, seperti yang dijabarkan Miller dalam jurnal terbitan Oxford University Press itu, Indra adalah karakter yang terjepit tanggung jawab kepada orang tua dan keluarga barunya.

Tidak lama setelah kalut kehilangan order, Indra mendapat info tentang Bagirata. id dalam obrolan dengan kawan-kawannya.

Dia lalu mempelajari skema kerja wadah berbagi itu. Harapannya memiliki bantuan finansial meninggi.

Namun yang tempat tunggu-tunggu tak kunjung tiba. Mutakhir belakangan, ia baru sadar bantuan sebesar Rp250. 000 masuk ke akun dompet digitalnya.

“Uang segitu bisa buat makan seminggu. Tapi sesudah pikir-pikir, saya mau gunakan uang itu untuk jualan pulsa. Beta numpang jualan di warung jodoh, ” kata Indra.

“Akhirnya beta buat spanduk. Alhamdulilah meskipun sehari delapan transaksi, hasilnya bisa bagi makan, ” tuturnya.

Apa itu Bagirata. id?

Salah satu inisiator wadah tersebut, Lody Andrian, menyebut Bagirata. id merupakan wadah yang menghubungkan orang-orang berpenghasilan dengan para pekerja yang terdampak pandemi.

Karena bukan kedudukan bisnis dan dijalankan secara manasuka, Lody menyebut tidak ada aliran dana yang masuk ke kampil Bagirata. id. Distribusi dana mengalir langsung dari akun dompet digital pemberi ke penerima dana.

“Kami gunakan diksi redistribusi kekayaan, bukan infak atau donasi. Kami mau menghasut orang untuk bergotong-royong. Yang memiliki privilese sadar dan lakukan segalanya demi kepentingan kolektif, ” ucapnya.

“Dalam krisis seperti ini, kekayaan hanya terdistribusi ke orang-orang yang profesinya tidak terdampak. Kita semua rasakan pandemi, tapi dampaknya bisa beda-beda. ”

“Semangat kolektivisme itu dengan ingin kami fasilitasi, ” sirih Lody.

Lody berkata, Bagirata. id menyiasati pendataan pekerja korban pandemi yang disebutnya kerap tidak berujung bantuan sosial yang merata.

Di Bagirata. id, data pekerja yang membutuhkan sokongan finansial diunggah dalam bentuk cerita individual bergambar. Tujuannya, kata Lody, memicu empati publik sehingga terdorong buat berbagi.

“Banyak lembaga mengumpulkan data orang-orang yang terdampak pandemi, terutama lembaga yang katanya mau memberikan tumpuan langsung, ” tuturnya.

“Beberapa kawan saya juga didata. Mereka berekspektasi tumpuan itu bisa jadi jaring tentara saat kehilangan penghasilan. ”

“Tapi ternyata hasil pendataan itu nihil. Itulah pemantik utama kami, menghasilkan pengumpulan data berlanjut ke gerak-gerik nyata, ” ujar Lody.

Bagaimana cara kerja wadah ini?

Sasaran wadah tersebut adalah pekerja di delapan daerah industri yang terguncang pandemi, antara lain perhotelan, jasa makanan & minuman, seni pertunjukan, tekstil, & jasa kebersihan.

Dalam proses verifikasi dengan dilakukan Lody dan tiga insiator Bagirata. id lainnya, calon penyambut dana wajib mengisi beberapa bahan, seperti akun media sosial dan cerita singkat situasi yang dihadapi.

Bila lolos, akun media sosial mereka akan ditampilkan dalam profil yang bisa dilihat calon pemberi dana. Dengan mekanisme itu, Lody berharap publik turut bisa mengawasi bahan penerima dana.

Jumlah maksimal yang mampu diterima seorang penerima dana ialah Rp1, 5 juta. Nominal itu diambil dari ketetapan standar tumbuh layak dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 13/2012.

Di sisi lain, saat hendak mendistribusikan bantuan, calon pengirim akan mendapat 10 profil penerima dana. Semesta profil itu diklaim Lody pegari secara acak, sesuai jumlah exposure dalam sistem Bagirata. id.

Proses distribusi sedekah dapat dilakukan di tiga dompet digital, yaitu Gopay, Dana, dan Jenius–langsung antara pengirim dan penyambut.

Seberapa masif gerakan gotong-royong ini?

Saat tulisan ini ditulis, 6 Agustus cerai-berai, sebanyak 1. 075 orang sudah menerima dana dalam wadah tersebut.

Selain Indra yang berkisah di introduksi artikel ini, ada pula Natasha Tontey. Dia adalah pekerja halus pertunjukan. Natasha dianugerahi Young Artist Award pada ArtJog tahun 2019, salah satu pagelaran seni paling ternama di Indonesia.

Akibat pandemi, kata Natasha, tidak ada kejelasan tentang perkembangan empat pameran dan dua rencana residensi ke luar negeri yang sedianya bakal ia jalani tahun 2020.

Dampaknya, Natasha kehilangan seluruh sumber pemasukannya. Uang yang dia gunakan untuk membuat karya pun kubra diganti penyelenggara pameran.

“Pertama kali aku lihat wadah ini di Instagram. Menarik sekali aksi solidaritasnya. Maklumat ini jadi obrolan orang-orang pada sekitar saya, ” kata Natasha.

“Tadinya saya malu untuk mendaftar, tapi bagaimana juga, pandemi membuat orang-orang seperti saya jadi rentan, ” tuturnya.

Dan Bagirata. id bukan tunggal upaya akar rumput yang digagas untuk menopang para pekerja pada tengah pandemi.

Natasha berkata, ia juga menjadi peserta dapur umum beramai-ramai yang didirikan MES56, sebuah persekutuan seniman fotografi kontemporer di Yogyakarta. Aksi solidaritas ini menyediakan sasaran sehat gratis untuk siapapun semasa pandemi Covid-19.

“Gerakan seperti ini mendirikan saya berpikir bagaimana ketimpangan mampu terjadi dan bagaimana solidaritas mampu dilakukan dari hal kecil, ” ujar Natasha.

“Buat saya, rakyat kudu saling bantu tanpa harus saling tunggu. Yang bisa dilakukan, lakukanlah sekarang. Saya percaya pada aktivitas solidaritas, ” ucapnya.

Bagaimana agar berkelanjutan?

Sejumlah 68% muda-mudi Indonesia dari generasi sandwich mengalami penurunan pendapatan semasa pandemi Covid-19. Temuan itu tumbuh dalam survei akhir April awut-awutan, yang dilakukan Jakpat, sebuah platform survei berbasis di Yogyakarta.

Data itu sejalan dengan pendapat Lengga Pradipta, akademisi di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI. Ia berkata, pekerja yang paling tergoncang selama pandemi bergiat di sektor informal, mayoritas berusia 25-40 tahun.

Beruntung, kata Lengga, muda-mudi Indonesia tidak cuma kreatif, akan tetapi memiliki modal kolektif berupa tradisi gotong-royong.

“Subsidi silang adalah besar masyarakat Indonesia. Kultur kita semenjak lama adalah gotong royong. Kalaupun bentuknya sekarang berbeda, misalnya melalui media sosial, ini sangat penting, ” kata Lengga.

“Generasi muda Indonesia terkenal suka bantu teman atau collective action . Ini sangat bisa dimanfaatkan karena kita memang punya modal tersebut, ” ujarnya.

Lengga mengatakan, agar menetap, bukan cuma selama pandemi Covid-19, wadah semacam Bagirata. id perlu secara rutin mengkampanyekan semangat tindakan solidaritas di media sosial.

Lengga membicarakan itu sebagai pengingat nilai dengan diyakini sejak lama oleh bangsa Indonesia.

“Di konstitusi, kita dijaga negara dan negara harus hadir. Akan tetapi kita perlu menganggap negara tersedia di baris kedua sebagai pihak yang bisa membantu kita, ” kata Lengga.

“Yang membantu kita pertama kali adalah orang-orang dalam sekeliling kita, ” ujarnya.

Lantas akan menjadi apa wadah berbagi seperti Bagirata. id setelah pandemi berakhir? Tetap untuk kepentingan jemaah, klaim Lody Andrian.

“Kami tidak memiliki badan hukum. Ini inisiatif awak untuk membuat medium yang bisa digunakan orang banyak, ” ujarnya.

“Kami tidak punya kepentingan apapun di belakang. Tendensi kami memfasilitasi redistribusi kekayaan jika terjadi krisis-krisis lain, ” kata Lody.