• Pradeep Kumar
  • BBC Hindi, Delhi

Sumber tulisan, Aaditya Bharawaj

Foto seorang ibu dengan jenazah putranya di kakinya menjadi viral di India.

Foto itu menampilkan Chandrakala Singh yang tampak kelelahan, duduk terdiam di sebuah bajaj. Adapun tubuh putranya, Vineet Singh, terbujur kaku di kakinya.

Kejadian ini berlangsung di sebuah jalanan ramai di Kota Varanasi, yang terletak di Negara Bagian Uttar Pradesh, India utara. Negara bagian itu termasuk yang paling parah terkena dampak gelombang kedua Covid-19 yang melanda India.

Varanasi, yang berjuang untuk mengatasi pandemi, adalah daerah pemilihan Perdana Menteri Narendra Modi.

Foto memilukan ini hanyalah salah satu perumpamaan dari penderitaan penduduk India yang terperangkap di jarang pandemi yang “mengganas” & sistem perawatan kesehatan di ambang kolaps.

Pada Senin (19/04) pagi, Chandrakala bersama-sama putranya menuju rumah melempem yang terafiliasi dengan Universitas Hindu Banaras (BHU) dari rumah mereka. Perjalanan mematikan waktu lebih dari mulia jam, kata saudara laki-lakinya Jai ​​Singh kepada BBC Hindi.

“Vineet menderita penyakit ginjal dan telah berkonsultasi dengan dokter di rumah sakit BHU selama kurang waktu. Dia telah mendirikan janji pertemuan untuk Senin, sepekan yang lalu, ” kata Jai Singh.

Tetapi, ketika sang ibu dan anak ini sampai pada rumah sakit, mereka diberitahu bahwa dokter yang bakal mereka temui tak tersedia di rumah sakit. Mereka kemudian dirujuk ke tengah trauma yang menerima kasus gawat darurat.

Vineet kolaps di pintu meresap pusat trauma, dan sesuai kata ibunya, staf rumah sakit menolak memeriksanya.

“Mereka berkata dia terpapar corona. ‘Bawa dia sejak sini’. Putra saya, bani saya kehabisan napas. Awak minta oksigen dan ambulans, tapi kami tidak dapat apa-apa, ” tutur Chandrakala sambil menangis.

Sumber tulisan, Vikash Chandra

Chandrakala kemudian membawa putranya ke rumah sakit swasta terdekat menggunakan bajaj, tetapi mereka juga menolak untuk menerimanya.

Di perjalanan ke rumah melempem ketiga, Vineet meninggal negeri. Tubuhnya terbujur kaku di kaki ibunya.

Dan saat Chandrakala duduk pada sana dalam kondisi duka, hancur oleh kematian putranya dan sangat membutuhkan sandaran, dia dirampok. Catatan medis dan telepon putranya dicuri.

Foto itu, pertama kala diterbitkan oleh surat informasi Hindi lokal Dainik Jagran , telah beredar secara luas di India.

Shravan Bharadwaj, reporter yang meliput kisah tersebut, berkata pada BBC kalau lokasi Vineet meninggal berkecukupan di luar BHU serta ada beberapa rumah kecil sepanjang jalan itu.

Sumber gambar, Reuters

“Namun tak ada satupun yang menawarkan bantuan, ” katanya.

Belum jelas apakah Vineet meninggal karena kepelikan Covid-19, atau bahkan terpapar virus corona sebab keluarganya berkata “dia tak mempunyai gejala”.

“Seandainya dia diperiksa, diberi oksigen, dan dirawat karena masalah ginjalnya, tumbuh Vineet bisa diselamatkan. Dia meninggal karena kelalaian. Kealpaan semacam ini bisa membuahkan lebih banyak lagi moralitas, ” kata pamannya.

Babak serupa terjadi di semesta India, dengan kerumunan karakter menunggu di luar panti sakit yang kewalahan dan deretan ambulans dengan pasien yang menunggu giliran untuk dirawat.

Banyak karakter, seperti Vineet, meninggal pada luar rumah sakit atau dalam perjalanan ke salah satu rumah sakit.

Media sosial dibanjiri dengan pekik oksigen, ambulans, tempat rebah ICU, dan obat-obatan penolong jiwa saat India memerangi gelombang kedua yang menyambut.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di pesawat pencari lain

Rumah sakit BHU di Varanasi adalah fasilitas medis pati yang menjadi pusat kesehatan tubuh bagi hampir 25 juta orang yang tinggal di 40 distrik di bagian timur Uttar Pradesh.

Tetapi lonjakan kasus Covid telah membuat rumah rendah dan stafnya kewalahan.

Seorang pejabat rumah sakit mengatakan kepada BBC bahwa sebab pandemi, mereka hanya menyelenggarakan konsultasi online.

Dr Sharad Mathur, pengawas medis vila sakit, mengatakan mereka berusaha melakukan yang terbaik, namun “ada terlalu banyak tekanan”.

“Ada kekurangan tenaga kerja yang akut, dan seluruh orang yang ada sudah dikerahkan. Setiap hari, saya menyelamatkan banyak nyawa. Namun orang-orang hanya bergegas ke rumah sakit ketika pasien sangat kritis. Dan seluruh ini terjadi di pusat pandemi..

“Semua pasien dengan dirawat dalam keadaan genting dan mereka mendatangi kami dalam kondisi kritis. Akan tetapi kami tidak bisa menyelamatkan nyawa setiap pasien, ” katanya.