Xu Jiayin

Sumber gambar, Getty Images

Direktur dan pendiri raksasa pengembang properti China, Evergrande, Xu Jiayin pada 21 September menulis tulisan untuk karyawan perusahaan dengan ia pimpin yang berjumlah tak kurang dari 125. 000 orang.

“Saya meyakini, dengan kegiatan sama di antara banjaran pimpinan dan seluruh pekerja… jika kita terus berjuang, tabah menjalani perjuangan ini, kita akan bisa muncul dari masa-masa gelap itu segera, ” kata Xu Jiayin.

Surat ini ia tulis ketika perusahaannya bertemu persoalan serius: terancam berantakan.

Utang yang dicatat Evergrande diperkirakan mencapai tak kurang dari US$300 miliar atau sekitar Rp4. 260 triliun.

Dalam sejarah tak tersedia perusahaan di dunia tersebut yang memiliki utang sejumlah ini.

Baca pula :

Muncul kekhawatiran kalau Evergrande gagal membayar kembang dan tak bisa mengembalikan utang US$300 miliar, oleh karena itu ambruknya pengembang yang berkantor pusat di Shenzhen itu dapat memicu kekacauan keuangan global.

Warga China yang sudah membayar ke Evergrande menghadapi kemungkinan rumah yang mereka akan beli mungkin tak selesai dibangun.

Sumber gambar, Getty Images

Evergrande telah menggelar 876 proyek di lahan seluas 293 juta meter persegi dan punya proyek di seluruh provinsi di China, menurut laporan tahunan perusahaan yang dikeluarkan di dalam 2019.

Namun setelah pemerintah pusat di Beijing memberlakukan peraturan baru di dalam Januari yang ditujukan untuk mengontrol utang perusahaan-perusahaan kekayaan, Evergrande tak bisa menutup kewajiban membayar cicilan bunga.

Siapa Xu Jiayin

Xu Jiayin, yang juga lumrah dengan nama Hui Ka Yan, lahir pada 1958 di Desa Jutaigang, Provinsi Henan, di China barat.

Media pemerintah menyebutkan ayahnya adalah anggota Tentara Revolusioner dan ikut bertempur melayani Jepang sedangkan sang pokok meninggal sebelum ia menapak usia satu tahun.

Sejak meninggalnya sang ibu, Xu Jiayin diasuh dan dibesarkan oleh neneknya,

Sebelum memegang gelar sebagai salah utama orang terkaya di China, Xu Jiayin pernah menjadi pekerja kasar. Menurut media di China, ia pernah menjadi sopir traktor yang mengangkut kotoran sapi, maka bekerja di pabrik emas biru.

Pada awal 1970-an dia masuk ke Institut Besi dan Baja Wuhan, lembaga pendidikan yang sekarang bertanda Universitas Sains dan Teknologi Wuhan.

Setelah lulus, dia bekerja di pabrik tukul dan baja selama kurang tahun sebelum mendirikan Evergrande Group pada 1996.

Evergrande melakukan banyak investasi kekayaan yang membuat perusahaannya memperoleh dana US$722 juta era menawarkan saham pada 2009.

Seiring dengan tumbuhnya perekonomian China, Evergrande juga tumbuh pesat.

Pada 2018, Brand Finance menempatkan Evergrande sebagai perusahaan real estate secara nilai terbesar di negeri. Xu Jiayin memiliki 70% saham Evergrande, membuat biji kekayaan dirinya menembus hampir US$11 miliar, menurut penelusuran majalah Forbes.

Di daftar orang terkaya di dunia, ia berada di susunan 53, dan di China berada di urutan 10.

Di luar sektor kekayaan, Evergrande menjadi pembicaraan kala membeli klub sepak bola di Guangzhou pada 2010 seharga US$15 juta.

4 tahun kemudian Xu Jiaying menjual sahamnya di klub ke perusahaan e-commerce Alibaba seharga US$192 juta.

Baca juga :

Xu Jiayin

Sumber gambar, Getty Images

Pada bawah kepemimpinannya, ia menukar klub kemudian bernama Guangzhou Evergrande menjadi klub yang sangat disegani di China. Ia menggelontorkan banyak uang untuk mendatangkan pelatih dan pemain internasional.

Di 2012 ia menarik perhatian nasional saat hadir dalam pertemuan Partai Komunis dengan mengenakan ikat pinggang kaya merek Hermes. Ikat pinggangnya ini disebut sebagai dengan termahal dalam perhelatan kebijakan ini.

Beberapa kalangan berniat kesuksesan Evergrande antara asing disebabkan oleh hubungan depan Xu Jiayin dengan para pejabat penting. Namun Xu Jiayin menyebut kesuksesan dirinya karena pendidikan dan pertolongan Partai Komunis.

“Tanpa [pendidikan di] perguruan tinggi, saya pasti masih berada di desa. Tanpa bantuan uang pemerintah, saya tidak mungkin bisa masuk ke universitas. Tanpa reformasi [yang dijalankan pemerintah], Evergrande tak hendak sebesar sekarang, ” katanya dalam satu kesempatan, kaya dikutip kantor berita AFP.

Ia menambahkan kesuksesan Evergrande karena jasa Partai Komunis, negara, dan masyarakat.

Zhiwu Chen, direktur Asia Ijmal Institute dan pengajar pada University of Hong Kong, kepada BBC Mundo menjelaskan, “koneksi politik memungkinkan Xu Jiayin dan Evergrande memperoleh utang dalam jumlah mulia meski sebenarnya mendapatkan pinjaman besar sering kali menghadapi kendala regulasi”.