• Callistasia Kejayaan
  • Wartawan BBC News Indonesia

hamil

Dua orang perempuan mendongengkan tantangan yang mereka hadapi era memeriksa kandungan hingga melahirkan di tengah pandemi Covid-19.

Seorang ibu bercerita ia kesulitan menyelia kandungan karena fasilitas kesehatan yang tidak siap memeriksa ibu hamil dengan protokol pencegahan Covid-19.

Sementara, seorang perempuan lainnya mengaku dia harus “menahan kontraksi selama satu jam” karena harus menunggu hasil tes Covid-19 sebagai syarat mengemukakan.

Menurut data Perkumpulan Obstetri & Ginekologi Indonesia (POGI) Jakarta, 13, 7 persen perempuan hamil lebih mudah terinfeksi Covid-19, dibandingkan itu yang tidak hamil.

Kementerian Kesehatan berupaya mencegah penularan Covid-19 pada ibu hamil dengan meminta mereka mengurangi pemeriksaan pada trimester kedua, kecuali jika terdapat masalah dalam kandungan mereka.

‘Sudah penasaran perihal bayi’

Indah, seorang warga kabupaten Tangerang, berusia 21 tahun, mengatakan ia sangat gembira ketika mengetahui dirinya mengandung anak pertamanya melalui instrumen tes kehamilan rumahan.

Untuk mengambil kehamilannya, ia memeriksakan diri ke sebuah klinik yang menyediakan servis pemeriksaan kandungan pada April lalu.

Namun, sesampainya di sana, dia diminta pulang karena bidan dalam fasilitas itu mengatakan ia khawatir Indah bisa tertular virus corona.

“Perasaan saya saat itu kacau. Ya kecewa, tapi nggak salah juga bidannya. Soalnya yang beta tahu memang ibu hamil sensitif terkena Covid-19, ” ujar Cantik, yang menggunakan layanan BPJS untuk pemeriksaan itu.

Saat itu, pihak pengurus di klinik itu mengucapkan mereka akan menghubungi Indah kembali melalui WhatsApp. Indah menunggu berhari-hari, tapi klinik itu tak serupa mengabarinya.

hamil

“Mau nyamperin juga serba lengah, lagi PSBB besar-besaran Tangerang Sundal saat itu. Walau sebenernya, di enggak patuh juga sih . Tapi, sebagai pokok hamil saya takut ketularan, real udah penasaran gimana pertumbuhan baby dalam lambung, ” ujarnya.

Oleh karena tersebut, pada usia kehamilan trimester baru, Indah hanya berkonsultasi dengan sinse melalui layanan kesehatan yang tersedia di internet. Meski hal tersebut dirasanya tak cukup.

“Saya tunggal masih awam soal info kehamilan. Kalau untuk cari-cari informasi sendiri di internet atau via chat pada internet, saya rasa masih kurang.

“Butuh tindakan khusus biar bumil yang awam seperti saya prinsip apa-apa saja yang harus dikerjakan selama kehamilan. ”

Indah pertama memeriksakan kandungannya untuk pertama kali di bidan pertengahan Juli berantakan, atau saat kehamilannya menginjak leler empat bulan, meski menurut titah Kementerian Kesehatan, dalam trimester prima setidaknya ia sudah dua kala melakukan pemeriksaan.

“Harapan kedepannya, kami peng e nnya bumil-bumil seperti saya ini dapat jalur khusus buat semata-mata periksa biasa, atau USG, tercampak kami nggak ketemu langsung sesuai pasien-pasien dengan gejala kesehatan asing, ” ujarnya.

Sejauh ini, Kementerian Kesehatan mengatakan mereka yang negatif Covid-19 dipersilahkan memeriksa kandungan dalam fasilitas kesehatan yang ada, setidaknya enam kali selama masa perut.

‘Tes Covid-19 saat bukaan 8’

Tak cuma pemeriksaan kehamilan, melahirkan di masa pandemi juga memiliki tantangan tunggal, seperti diceritakan Nadia Hanum, awak Surabaya, Jawa Timur, yang berusia 28 tahun.

Nadia melahirkan di sebuah rumah sakit ibu dan anak di Surabaya awal Juli ini.

Saat tiba di vila sakit, dia sudah mengalami bukaan delapan dan langsung dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD). Tetapi, ia belum bisa menjalani metode persalinan karena ia diminta menyelenggarakan rapid test.

ibu hamil, perempuan hamil, kehamilan

Proses itu mematikan waktu sekitar 15 menit dengan diikuti dengan pengambilan foto thorax selama 15 menit.

“Hasilnya muncul, terus saya dibawa ke kawasan bersalin. Di ruang bersalin aku harus tunggu dokter karena dia baru dikabari setelah hasil ulangan saya dipastikan non-reaktif. Jadi kami nunggu kira-kira satu jam sampai boleh bersalin, ” kata Nadia.

Nadia mengatakan pengalamannya itu memproduksi trauma.

“Yang bikin trauma tidak lagi rasa sakitnya, tapi cara saya harus menunggu selama tersebut setelah saya bukaan delapan.

“Yang membuat kesal, petugas UGD menjelaskan ke saya, kalau hasilnya tesnya reaktif, saya harus dirujuk ke sendi sakit yang punya ruang isolasi untuk ibu dan bayi. ”

Saat itu, ujar Nadia, pihak rumah sakit mengatakan belum tahu akan merujuk Nadia kemana jika hasil tes rapidnya reaktif.

“‘Seadanya ruangan’, kata tim medis dalam UGD, ” kata Nadia.

Mujur saja, hasil tesnya saat tersebut normal, kata Nadia.

Terkait dengan itu, Kementerian Kesehatan baru mengutarakan edaran terkait aturan persalinan di masa pandemi, yang diumumkan 20 Juli lalu.

“Mengingat banyaknya urusan COVID-19, baik kasus konfirmasi, suspek, maupun probable , perlu diterapkan protokol kesehatan untuk ibu hamil yang juga menyimpan risiko untuk menderita penyakit COVID-19.

“Setiap ibu hamil yang akan melakukan persalinan diimbau untuk melakukan skrining COVID-19 tujuh hari sebelum taksir persalinan. ” kata edaran itu,

Pemisahan bumil dengan pasien Covid-19

Menurut Muhammad Ardian, dokter kandungan yang pula menjabat sebagai Ketua Satgas Persekutuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Surabaya, pemisahan ruang bagi pokok hamil, yang tidak terinfeksi covid-19, dengan pasien Covid-19 sangat istimewa.

“Kementerian Kesehatan maupun POGI telah mengimbau, kalau periksa kehamilan nggak usah terlalu sering. Tapi kalau-kalau dengan pemisahan antara rumah melempem, misalkan rujukan Covid-19 dan non-Covid, ibu-ibu tak perlu takut.

“Karena RSIA di Surabaya, misalnya, nggak menangani Covid-19. Di rumah sakit umum, misalkan Universitas Airlangga, pasied Covid dan non-Covid sudah dipisahkan jadi nggak usah khawatir, ” ujarnya.

hamil

Sebelumnya, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini meminta warganya yang hamil buat tidak memeriksakan diri ke Puskesmas, tapi ke RSIA, untuk mengindari risiko penularan Covid-19.

Ardian mengatakan, bagaikan yang diarahkan Kementerian Kesehatan, penjagaan kehamilan harus dilakukan minimal enam kali agar deteksi dini risiko kehamilan bisa berjalan.

“Misalkan penderita karena jarang kontrol tidak diketahui tensinya naik karena preeklampsia, ” katanya.

Ibu hamil lebih rentan

Sinse kandungan lain, Ulul Albab, dengan merupakan Sekjen POGI Jakarta (Jaya), menjelaskan kondisi ibu hamil dengan disebutnya lebih mudah tertular covid-19 karena sistem imun mereka yang lebih rentan.

Menurut data POGI Jakarta, 13, 7 persen perempuan hamil lebih mudah terinfeksi Covid-19 dibandingkan mereka yang tak berisi.

Ulul mengatakan hingga minggu kedua Juli, setidaknya ada 97 hawa yang hamil dalam status tentu Covid-19 di Jakarta dan satu orang meninggal.

Melihat risiko penularan yang ada, Ulul menyarankan para perempuan menunda kehamilan selama pandemi.

Sementara itu, pemisahan ibu dengan melahirkan dengan status negatif Covid-19 dan positif Covid-19, juga sepatutnya dilakukan, ujar Ulul.

hamil

Ia meminta negeri menyediakan layanan khusus untuk itu yang hamil dalam status meyakinkan Covid-19.

“Sampai sekarang belum tersedia RS rujukan yang memang istimewa melayani ibu hamil yang terkonfirmasi positif. Kenapa kita perlu? Karena ada dua yang kita tangani, yakni ibu dan anaknya.

“Sementara panti sakit yang memiliki ruang proses bertekanan negatif, sebagai syarat melangsungkan operasi pasien Covid-19, kan terbatas jumlahnya. Jadi penunjukkan khusus itu perlu, ” kata Ulul.

Di Surabaya, jumlah persalinan per bulan mencapai sekitar 3000an dan berdasarkan anggapan POGI Surabaya, 10-20% dari mereka terinfeksi virus corona, ujar Muhammad Ardian.

Tes Covid -19 seminggu sebelum lahiran

Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan tubuh Erna Mulati mengatakan sejauh ini, ibu hamil yang terinfeksi corona, diperlakukan layaknya pasien Covid-19 pokok, dan diarahkan untuk melahirkan di rumah sakit rujukan covid-19.

“Kita memperkuat fasilitas kesehatan terkait penerapan Alat Pelindung Diri untuk mencegah penularan virus corona dalam metode melahirkan. ” ujar Erna.

Ia memasukkan ibu hamil perlu menjaga kesehatan tubuh selama kehamilan selama pandemi.

“Kan dilakukan skrining oleh dokter, kita harap dokter memberi nasihat-nasihat. Semasa ibu hamil menjalankan apa dengan di buku Kesehatan Ibu & Anak (KIA yang diterbitkan Kemenkes), Insya Allah nggak ada apa-apa, nggak ada masalah, ” katanya,

virus corona

virus corona

Línea