Sumber gambar, .

Pendidikan seks dan kesehatan reproduksi (kespro) mendapat tantangan berlipat ganda ketika memasuki masa pandemi bahkan di sekolah yang menjadikan program ini ke dalam pembelajaran.

Situasi makin buruk, karena tak banyak sekolah yang menerapkan program pendidikan seks dan kespro dalam mata pelajaran dengan alasan tabu atau karena keteteran dengan mata pelajaran utama.

KPAI menilai hak anak untuk mengakses pendidikan seks dan kespro yang tersumbat merupakan “rangkaian” yang menyuburkan krisis kekerasan seksual anak di masa pandemi. Kondisi ini masih terjadi di tengah Hari Kesehatan Seksual Sedunia yang diperingati setiap 4 September.

Baca Juga:

Siang itu, Jasmine—bukan nama sebenarnya—baru pulang sekolah. Di rumah sepi, hanya ada seorang pekerja rumah tangga.

Sambil melirik ke kiri-kanan, ia diam-diam mengambil majalah dewasa milik tantenya yang tergeletak di ruang tamu. Jasmine yang masih berusia 11 tahun, menyibak halaman “permainan seksual seperti permainan polisi dan tahanan”.

“Aku tidak pernah membahas ini ke teman-teman, karena kebetulan sekolah swasta religius, yang berbasis agama. Jadi, hal itu agak tabu untuk dibicarakan, ” kenang Jasmine, pada pengalaman pertama tentang pornografi saat duduk di sekolah dasar.

Sumber gambar, Thinkstock

Rasa penasaran berlanjut. Jasmine mendapat foto dan video gamblang pornografi melalui internet ketika duduk di bangku SMP.

“Waktu pertama kali lihat itu aneh dan jijik, karena itu beda yang muncul di kepalaku sebelumnya saat aku baca di majalah, yang mana kalau di majalah itu terlihat permainan yang menyenangkan, ” kata Jasmine.

Berangkat dari pengalaman mereka yang belum cukup mendapatkan pendidikan seks dan kespro dan mencari ke saluran lain seperti Jasmine, sejumlah sekolah saat ini menjadikannya sebagai program dalam pembelajaran.

Pendidikan seks dan kespro lewat terobosan

Sumber gambar, Dok. SMPN 22 Semarang

Taman Bermain dan Taman Kanak-kanak (TK/TB) Ceria Tomoho di Yogyakarta menjadi salah satu sekolah yang membuat terobosan bagaimana menerapkan pendidikan seks dan kesehatan reproduksi pada peserta didik.

Terobosan itu lewat lagu yang diciptakan oleh para guru. Cara unik pembelajaran melalui nyanyian ini berlangsung lima tahun terakhir, agar peserta didik memahami betapa berharga tubuh mereka untuk dilindungi dari ancaman orang lain.

Silvia Hermin Ekasari adalah kepala sekolah TB/TK Cerita Tomoho, terus mencari terobosan atas keresahan orang tua mengenai pendidikan seks dan kespro anak usia dini, “karena orang tua itu kadang bingung cara penyampaiannya seperti apa”.

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Ari Bowo Sucipto

Lalu terciptalah lagu ” Mandiri ” yang berisi pesan: “Katakan tidak bila dilihat dan disentuh/Bila itu terjadi/Lari cepat ke tempat ramai/teriak minta tolong”.

Silvia menambahkan, pendidikan seks dan kespro bukanlah membahas pornografi yang vulgar, tapi menanamkan nilai berharga pada tubuh sendiri sejak dini.

“Bukan hanya ditutupi dengan baju yang sopan. Tapi tubuh kita ini, atau anggota tubuh kita itu harus dilindungi, ” kata Silvia.

Situasi kespro di sekolah

Sumber gambar, Dok. SMPN 22

Dari angka ini, hanya beberapa sekolah saja yang dijadikan percontohan dalam penerapan pendidikan seks dan kespro.

SMPN 22 Semarang adalah salah satu dari tiga sekolah yang dipilih sebagai percontohan dari 3. 357 SMP se-Jawa Tengah. Sejak 2017 lalu, sekolah ini menerapkan paket materi dalam Modul Semangat Dunia Remaja (Setara) yang disampaikan guru bimbingan konseling.

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Sigid Kurniawan

Anita Rakhmi Shintasari, guru bimbingan konseling SMPN 22 mengaku mendapat tantangan dari orang tua murid saat pertama kali menerapkan pendidikan seks dan kespro.

“Beliau [orang tua itu] merasa di rumah anak sudah cukup dibekali. Jadi kalau dibahas sama teman-temannya, nanti ngelantur, ” kata Anita.

Tapi ia kemudian menjelaskan ini secara personal kalau esensi dari pendidikan seks dan kespro “pada keterampilan hidup, bagaimana memberikan bekal kepada anak supaya mereka bisa bertanggung jawab dengan dirinya, dan juga bisa merencanakan masa depannya itu dengan lebih baik. ”

Siswa lebih berani ‘berteriak’

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Adeng Bustomi

Setelah bertahun-tahun memberikan pendidikan seks dan kespro pada peserta didik, Anita memperhatikan siswanya menjadi lebih mengerti ketika membangun relasi yang sehat. “Karena dulu sering terjadi perkelahian, kemudian bully ing terkait dengan catcalling , godain temannya, ” katanya.

Selain itu, siswi perempuan menjadi punya keberanian untuk bercerita ketika mendapat pelecehan dari temannya.

“Jadi ada yang pernah dipegang payudaranya oleh teman laki-laki, biasanya sebelum ada kespro, anak-anak kalau ada kejadian kayak gitu takut cerita. Karena diancam sama pelaku.

“Nah, setelah ada kespro ini nggak ada lagi anak perempuan yang istilahnya ketakutan seperti itu. Jadi mereka lebih percaya diri, dan berani menyampaikan kalau dia mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, ” tambah Anita.

Pandemi memperburuk keadaan

Sumber gambar, BBC Indonesia

Pendidikan seks dan kespro merupakan pembelajaran tentang keterampilan hidup, kata Anita. Tapi penyampaiannya kini menjadi terhambat di masa pandemi.

Kasus-kasus kemudian mulai bermunculan, seperti kepemilikan video porno sampai “pacaran yang agak over”.

“Padahal, logikanya mereka sudah mendapat informasi, tapi karena belum secara menyeluruh… Komunikasi dengan guru juga tidak se-intensif dengan interaksi langsung, ” Anita menambahkan walaupun sudah berupaya, tapi kasus ini menjadi sesuatu yang “menyedihkan”.

Sumber gambar, Getty Images

Tantangan serupa juga dihadapi TB/TK Ceria Tomoho, di mana pembelajaran jarak jauh mengurangi intensitas guru dan anak.

“Tantangannya memang tidak mudah, karena waktu yang kita berikan, Zoom online pun sebatas satu jam, mungkin sekitar segitu. Beda dengan offline dulu kita bisa bertemu, memegang anaknya, bisa memberikan pengertian pelan-pelan, ” kata Silvia.

TK/TB Cerita Tomoho dan SMPN 22 hanya segelintir institusi pendidikan yang menjadikan pendidikan seks dan kespro sebagai program utama.

Sumber gambar, ANTARA

Kebanyakan sekolah lainnya, melakukan pendidikan seks dan kespro melalui internalisasi ke dalam mata pelajaran utama. Namun, sejauh ini belum ada data yang menunjukkan evaluasinya.

Bahkan terdapat sekolah-sekolah yang menolak kerja sama untuk pendidikan seks dan kespro dengan alasan tabu.

Salah satu pengurus Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Muran Gautama bercerita pengalaman selama tiga dekade, menjalin kerja sama dengan sekolah untuk pendidikan seks dan kespro.

“Ada satu dua sekolah tidak sepaham dengan kita. Ya, dianggap mereka tidak butuh informasi itu, karena kespro ini lebih cenderung kayak mengeksplore seksualitas, melihatnya hanya sebatas itu mungkin, lalu ada kekhawatiran, ini kok bicara itu pada remaja, dianggap belum saatnya atau apa lah, ” kata Muran kepada BBC News Indonesia.

Sumber gambar, ANTARA

Lalu, hanya 26, 7% siswa mengetahui apa saja layanan reproduksi itu, dan baru 12, 7% dari mereka yang memahami proses pubertas, serta hanya 8, 5% memahami sistem organ reproduksinya.

“Hal ini disebabkan minimnya informasi dari sekolah maupun luar sekolah. ”

Minimnya pengetahuan siswa tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi ini secara tidak langsung ikut menyumbang pada angka kehamilan yang tak diinginkan, kasus aborsi, pernikahan usia anak, sampai kematian pada ibu saat melahirkan.

Pendidikan seks dan kespro terbatas

Sumber gambar, Getty Images

Sejauh ini, pemerintah telah melakukan internalisasi atau menyisipkan pendidikan kespro dan seksualitas dalam Kurikulum 2013. Internalisasi itu melalui mata pelajaran lainnya, seperti biologi, pendidikan olah raga, dan pendidikan agama.

Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Kemendikbud-Ristek, Samto, mengakui pendidikan seks dan kespro terbatas. Pemerintah, kata dia, khawatir peserta didik justru mencari lebih jauh konten negatif lewat internet selama pembelajaran jarak jauh.

“Justru ini yang membuat anak-anak jadi penasaran. Padahal kita kalau dari Kementerian Pendidikan kan terbatas. Artinya memang kita batasi. Tidak ada vulgar, sampai ke bagaimana perbuatan seksual kayak gitu, ” kata Samto.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN

Lebih lanjut, Samto mengatakan peran orang tua dan lingkungan keluarga menjadi ujung tombak dalam pendidikan seks dan kespro selama pandemi.

PKBI dan sejumlah lembaga lainnya pernah mengajukan uji materi UU Sistem Pendidikan Nasional agar pendidikan kesehatan reproduksi masuk kurikulum pendidikan, 2015 lalu. Namun, Mahkamah Konsitusi menolak gugatan pemohon karena tak memenuhi legal standing dalam kedudukan hukum.

Dalam putusannya, MK menyatakan salah satu pemohon yang hamil di luar nikah dikatakan, “Bukan semata-mata yang disebabkan dari kurang atau tidak adanya pendidikan kesehatan reproduksi yang diterima para pemohon, melainkan juga karena faktor lingkungan dan dari dalam sendiri pemohon itu sendiri, kurangnya pengawasan baik dari orang tua dan masyarakat sekelilingnya menjadi andil besar terjadinya hal tersebut, ” jelas Hakim MK, Aswanto.

Kasus meningkat, pemerintah diminta evaluasi

Sumber gambar, Davies Surya/BBC

Bagaimanapun, menurut Anggota KPAI, Ai Maryati Solihah, pendidikan seks dan kespro yang tersumbat dan makin terpuruk di masa pandemi merupakan persoalan berangkai yang bisa menyuburkan kasus kekerasan seksual pada anak.

Dalam laporan yang diterima KPAI, jumlah anak sebagai korban kekerasan seksual meningkat dua kali lipat di masa pandemi. Dari 190 kasus di tahun 2019 menjadi 419 kasus di tahun 2020.

Peningkatan kasus selama pandemi juga terjadi terhadap anak yang menjadi korban kejahatan seksual online , dari sebelumnya 87 laporan menjadi 103 laporan.

Selain itu, kasus anak yang mengoleksi konten pornografi meningkat empat kali lipat dari masa sebelum pandemi. Semula 94 kasus menjadi 389 kasus.

Sumber gambar, AFP

Menurut Ai Maryati, angka ini hanyalah fenomena puncak gunung es, di mana masih banyak kasus yang tak dilaporkan.

“Sementara hari ini, kita jangankan bicara soal itu sebagai optimalisasi sex education atau kesehatan reproduksi, dua tahun terakhir selama pandemi ini kan kita keteteran dengan mata pelajaran esensial anak-anak misalnya, ” katanya.

Ai menyebutnya sebagai “rangkaian” masalah di mana penerapan pendidikan seks dan kespro sangat bergantung dari kemauan pemerintah, sekolah dan lingkungan keluarga.

Misalnya di lingkungan sekolah, tak banyak guru yang memahami esensi dari pendidikan seks dan kespro sehingga tak mampu menginternalisasikan pada mata pelajaran utama.

Sumber gambar, BAY ISMOYO/AFP via Getty Images

“Karena pemahaman guru-guru kita kan di populasi nasional itu terus ya, meningkat. Guru yang mana yang sudah [paham], mana yang belum, ini kan tantangan.

“Itu kerja keras. Kita justru harus evaluatif. Kemendikbud harus membuka ruang dialog itu mengajak para ahli, termasuk kami KPAI dalam mengukur apakah internalisasi sudah jalan atau mandek, ” kata Ai Maryati.

Pengasuhan pada keluarga juga sangat bergantung dari sosialisasi komunitas atau pun pemerintah. “Dan ini memang lingkungan yang harus terus diajak beredukasi, bukan sekali dua kali kayak seminar”.

Sekali lagi Ai menekankan, pendidikan seks dan kespro merupakan dasar bagi penghormatan pada tubuh sendiri, pada tubuh orang lain, memahami risiko pada seksualitas, yang berujung pada kesetaraan dan keadilan gender. Pemerintah diminta mengevaluasi termasuk membuat terobosan di saat ruang-ruang sekolah mulai dibuka kembali untuk pertemuan tatap muka.

“Jadi, saya pikir sekali lagi kespro, sex education , jangan terlalu dianggap tabu, dianggap kiri, dianggap sesuatu yang liberal, tetapi mari, ini menjadi kepentingan yang memang juga harus disesuaikan dengan taraf, derajat, dengan sasaran kita, ” jelas Ai.