• Charlie Haynes dan Flora Carmichael
  • BBC Trending

Sebuah perusahaan pemasaran yang misterius menawarkan uang kepada sejumlah pesohor jalan sosial untuk menyebarkan hoaks mengenai vaksin-vaksin Covid-19.

Rencana itu urung ketika para influencer atau pemengaruh itu mengadukan tawaran yang mereka terima pada khalayak umum.

“Cerita ini diawali dengan sebuah email, ” kata Mirko Drotschmann, seorang wartawan yang juga Youtuber asal Jerman.

Drotschmann biasanya menolak tawaran lantaran merek-merek yang memintanya buat mempromosikan produk mereka ke lebih dari 1, 5 juta pengikutnya.

Namun, tawaran pada Mei lalu tersebut lain daripada yang lain.

Sebuah perusahaan pemasaran bernama Fazze menawarkan Drotschmann untuk mempromosikan sesuatu yang mereka klaim sebagai informasi bocoran bahwa tingkat kematian orang-orang penerima vaksin Pfizer hampir 3 kali lipat dari orang-orang penerima vaksin AstraZeneca.

Data itu adalah hoaks belaka.

Baca juga:

Bagi Drotschmann, semakin sahih bahwa dirinya diminta menyerakkan informasi menyesatkan guna mengikis kepercayaan publik terhadap vaksin di tengah pandemi.

“Saya terkejut, kemudian saya penasaran. Siapa di balik seluruh itu? ” kata Drotschmann.

Sumber gambar, Mirko Drotschmann

Di Prancis, Youtuber dunia sains, Leo Grasset, menyambut tawaran serupa.

Kongsi itu menawarkan 2. 000 euro (sekitar Rp34 juta) jika Grasset berpartisipasi.

Fazze mengeklaim pihaknya hanyalah perantara bagi seorang klien yang tidak ingin identitasnya diungkapkan.

“Benar-benar mencurigakan, ” ujar Grasset.

Baik Grasset maupun Drotschmann tercengang oleh klaim perusahaan Fazze.

Namun, mereka pura-pura tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. Itu kemudian diberikan instruksi rinci tentang apa yang mereka harus katakan dalam video Youtube.

Dalam bahasa Inggris yang patah-patah, instruksi tersebut menyuruh mereka “berakting seolah Anda punya semangat dan minat pada topik ini”.

Sumber gambar, Leo Grasset

Instruksi itu juga mewanti-wanti mereka agar tidak mengecap bahwa video yang itu buat disponsori—serta berpura-pura bahwa mereka memberikan imbauan secara spontan demi kebaikan penonton.

Platform-platform media sosial memiliki aturan yang melarang pelaksana video merahasiakan konten bersponsor.

Di Prancis dan Jerman, tindakan itu selalu tergolong ilegal.

Perusahaan Fazze pun menyuruh para influencer membagikan artikel dari tulisan kabar Prancis, Le Monde , melanda kebocoran data dari Pranata Obat-obatan Eropa (EMA).

Tulisan itu asli, tapi cocok sekali tidak menyebutkan soal kematian akibat vaksin.

Namun, jika influencer menyebutkannya, ada kesan keliru kalau statistik mengenai tingkat janji berasal dari bocoran masukan tersebut.

Baca serupa:

Data yang kudu disebut para influencer pada video mereka sejatinya digabung dari sumber-sumber berbeda serta ditarik keluar dari situasi.

Dengan demikian, influencer nantinya menyajikan jumlah orang dengan meninggal dunia di sebanyak negara beberapa saat setelah menerima vaksin Covid. Real, hanya karena seseorang wafat setelah menerima vaksin, bukan berarti dia meninggal karena vaksin tersebut.

Mampu saja orang itu tewas akibat kecelakaan mobil.

Sejak statistik yang diambil sejak negara-negara tertentu, mayoritas karakter menerima vaksin Pfizer jadi jumlah orang yang wafat setelah menerima vaksinasi Pfizer seolah menjadi kesimpulan.

“Jika Anda tidak mendapat pelatihan sains, Anda bisa bilang, ‘Oh angka-angka ini sangat berbeda, pasti ada kaitannya’. Tapi Anda tidak bisa serta-merta menyatakan ada korelasinya, ” kata Grasset.

Para-para influencer ini juga diberikan daftar tautan untuk dibagi ke khalayak—sejumlah artikel menyangsikan yang mengutip data-data ganjil yang seolah menunjukkan vaksin Pfizer berbahaya.

Tatkala Grasset dan Drotschmann mengungkap tindakan perusahaan Fazze di Twitter, semua artikel—kecuali artikel Le Monde —menghilang dari jaringan internet.

Secara keseluruhan, rangkaian ulah Fazze untuk menyebarkan informasi menyesatkan ke publik telah gagal.

Kemudian, sejak Grasset dan Drotschmann mengungkapkan kesibukan tersebut, setidaknya empat influencer lain di Prancis & Jerman yang ikut mengaku bahwa mereka menolak jalan Fazze untuk merekrut mereka.

Akan tetapi, wartawan Jerman, Daniel Laufer, menyebut ada dua influencer yang mengambil tawaran tersebut.

Menurut Laufer, dua individu itu mencakup Youtuber asal India, Ashkar Techy, yang biasa menayangkan konten soal mobil; mengikuti Everson Zoio asal Brasil yang punya tiga juta pengikut di Instagram.

Keduanya mengunggah video-video yang memuat pesan seperti kampanye Fazze serta membagikan tautan berita palsu sebagaimana diinginkan perusahaan tersebut. Keduanya juga telah berpartisipasi dalam promosi Fazze sebelumnya.

Setelah Daniel Laufer menghubungi mereka, Everson Zoio dan Ashkar Techy menghapus video masing-masing namun tak menjawab pertanyaan yang diajukan Daniel Laufer.

BBC berupaya menghubungi kedua influencer namun mereka tidak merespons.

Sumber gambar, Ashkar Techy

BBC juga telah mengirim email kepada orang yang menghubungi Grasset dan Drotschmann. Email itu memantul, bukan dari Fazze, tapi dari domain sebuah perusahaan bernama AdNow.

Fazze adalah arah dari AdNow, yang ialah perusahaan pemasaran digital serta terdaftar di Rusia beserta Inggris.

BBC berulang kala mencoba menghubungi AdNow melalaikan telepon, email, dan apalagi surat yang diantar suruhan ke markas mereka pada Moskow. Namun, perusahaan tersebut tidak merespons.

Akhirnya BBC dapat mengontak Ewan Tolladay, satu dari dua penasihat perusahaan Adnow cabang Inggris. Tolladay tinggal di Durham.

Tolladay mengatakan dirinya cuma punya sedikit keterlibatan dengan Fazze—perusahaan yang dia sebut sebagai ventura gabungan antara direktur asal Rusia bernama Stanislav Fesenko dan karakter lain yang identitasnya tak dia ketahui.

Tolladay mengeklaim dirinya bukan bagian sebab upaya menyebarkan informasi menyesatkan ke publik.

Tempat juga mengeklaim dirinya makin tidak tahu Fazze mengontrak para influencer sebelum informasi itu terungkap. Namun, tempat tidak bisa memberitahu siapa klien misterius yang dilayani Fazze.

Setelah kasus terbongkar, Tolladay menegaskan “pihaknya kini melakukan tanggung pikiran dan menutup AdNow pada Inggris”. Dia mengatakan Fazze juga akan ditutup.

BBC telah berupaya meminta Fesenko berbicara, namun tidak tersedia tanggapan.

Baik aparat Jerman maupun aparat Prancis sudah menggelar penyelidikan terhadap Fazze yang mendekati para influencer. Hingga saat ini identitas klien perusahaan itu belum jelas.

Ada spekulasi keterlibatan Rusia dalam skandal tersebut dan kepentingan pemerintah Rusia dalam mempromosikan vaksinnya, Sputnik V.

Omid Nouripour, ujung bicara bidang kebijakan asing negeri dari Partai Hijau di Jerman, menganjurkan supaya menyelidiki keterlibatan Moskow pada balik kampanye Fazze.

“Menjelek-jelekkan vaksin di Barat melemahkan kepercayaan pada demokrasi kita dan ditengarai meningkatkan keyakinan pada vaksin Rusia. Cuma ada satu sisi yang memeroleh manfaat dan tersebut adalah Kremlin, ” tukas Nouripour.

Kedutaan Rusia dalam London membantah anggapan itu.

“Kami memperlakukan Covid-19 sebagai ancaman global serta, karena itu, tidak tergiring melemahkan upaya global dalam melawan [pandemi]. Memvaksinasi orang dengan vaksin Pfizer adalah salah satu cara menangani virus ini. ”

Meskipun kampanye Fazze urung, Leo Grasset yakin upaya tersebut bukanlah upaya final untuk menggunakan kekuatan influencer sosial guna menyebarkan hoaks.

“Jika Anda ingin memanipulasi opini publik, khususnya anak-anak muda, Anda tidak menggunakan TV, ” kata Grasset.

“Belanjakan anggaran yang sepadan untuk pembuat konten TikTok, YouTube. Seluruh ekosistem dibangun sempurna untuk memaksimalkan efisiensi penyebaran disinformasi. ”