Sembilan tahun silam Priyatmo alias Mamo terlibat aksi terorisme dengan menyelundupkan senjata ke Filipina. Lima tarikh mendekam di penjara, dia dibebaskan pada 2015. Dan pada 17 Agustus 2020, dia mengikuti upacara memperingati HUT kemerdekaan Indonesia pada Solo, Jawa Tengah.

Mengenakan kemeja batik lengan panjang, Priyatmo nama lain Mamo —eks-narapidana terorisme itu—berada pada barisan tamu undangan saat upacara bendera di Balai Kota, Solo.

Bergabung empat sesama eks-napi terorisme yang lain, pria asal Karanganyar itu kendati mengikuti proses upacara mulai depan hingga akhir. Mereka juga mengenakan masker merah-putih dan berkopiah hitam.

Saat upacara pengibaran bendera Merah Putih, mereka pun berdiri tegap seraya memberikan hormat. Begitu pula zaman mengheningkan cipta, Mamo dan 4 rekannya ikut menunduk dan terlihat berdoa.

“Jangan sampai disia-siakan apa dengan telah dikorbankan oleh para pejuang dulu untuk memerdekakan negara ini, ” kata Mamo, seperti dilaporkan wartawan di Solo, Fajar Sodiq, untuk BBC News Indonesia, Senin (17/08).

Hukuman penjara Mamo berlangsung selama lima tahun setelah divonis bersalah atas kepemilikan senjata api dan hukumannya berakhir pada 2015 semrawut.

Pengadilan mengungkap pria asal Karanganyar, Jateng, ini terlibat penyelundupan senjata-senjata api itu ke Filipina. Dia menggunakan jalur tikus yang terkenal, yaitu melalui Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur.

Kejadiannya sembilan tahun silam. Kini, Mamo mengikuti upacara HUT Independensi Indonesia, termasuk bersedia menghormati bendera Merah Putih —yang diemohi sebab sebagian eks napi teroris lainnya.

Pada wartawan yang mewawancarainya, Priyatmo alias Mamo lantas berbicara tentang apa yang disebut nasionalisme dan nilai-nilai kepahlawanan.

Dia bersuara, keterlibatannya dalam upacara memperingati keadaan Kemerdekaan Indonesia ke-75 merupakan “momen mengenang maupun mengingat jasa para-para pejuang” dalam merebut kemerdekaan dibanding tangan penjajah Belanda.

“Peringatan ini bisa menggugah semangat perjuangan para-para pahlawan yang telah mengorbankan segalanya untuk Merah Putih, ” Mamo berujar.

Kisah Mamo ini bukanlah cerita pertama mantan napi terorisme yang mengaku ‘bertobat’ dan kemudian mengesahkan keberadaan instutisi negara dan pemerintah.

Pada Mei 2015 lalu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pernah menunjukkan salah-satu contoh program deradikalisasi yang diklaim berhasil terhadap terpidana terorisme lainnya, Umar Patek.

Umar Patek saat tersebut digambarkan telah ‘berubah’ dengan keterlibatannya dalam upacara bendera di tangsi Porong, Jawa Timur.

Ketika itu, Umar Patek tidak menyatakan penyesalan untuk perbuatan dan keterlibatannya dalam Bom Bali, tak juga menyatakan bahwa kekerasan atas nama agama adalah hal yang salah.

Dia hanya mengucapkan bahwa ‘jihad’ dengan kekerasan harusnya dilakukan tidak di Indonesia, mengecualikan di tempat lain. Tetapi tidak semua napi atau eks napi terorisme seperti Umar Patek atau yang lainnya.

Semenjak merebaknya aksi terorisme sejak awal 2000, pemerintah mencoba menggelar program deradikalisasi dengan melibatkan terpidana terorisme, mantan napi teroris dan keluarganya.

Dengan melibatkan berbagai bagian dan ahlinya, program ini dikerjakan dengan berbagai pendekatan mulai ekonomi hingga terapi psikologi.

Peneliti Pusat Tilikan Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia, Solahudin, dalam wawancara secara BBC Indonesia pada 2018 lalu, menuturkan bahwa sulit menentukan apakah program deradikalisasi berhasil atau gagal.

“Pertama, orang yang radikal kan harus diketahui tingkat radikalismenya. Setelah masuk program deradikalisasi, diintervensi, kita lihat ada hasilnya atau tidak.

“Nah, selama tersebut nggak pernah diukur orang yang dikasih deradikalisasi tingkat radikalismenya seolah-olah apa. Nggak bisa dibandingin, pra diintervensi dan sesudah diintervensi. Nggak bisa diukur, ” paparnya.

Kisah Paimin, eks napi teroris yang berusaha meracuni polisi

Kembali ke sosok Mamo, eks napi terorisme dengan terlibat dalam upacara HUT Kebebasan Indonesia di Balai Kota Solo. Dia mengaku sudah beberapa kali mengikuti upacara seperti itu di Kabupaten Karanganyar.

“Kalau upacara bendera HUT RI di Balai Kota Solo, baru hari ini saja. Tapi kalau di kabupaten (Karanganyar) sudah beberapa kali.

“Saya ikut upacara sesudah keluar dari penjara, ” katanya.

Tengah, eks napi terorisme lainnya, Paimin, mengaku sudah mengikuti kegiatan upacara serupa semenjak bebas pada April 2014.

Bahkan, selain mengikuti upacara Hari Kemerdekaan RI, Paimin mengaku turut mengikuti upacara Hari HUT TNI dan Polri.

“Pokoknya saya memasukkan program-program pemerintah selama ini, ” kata dia.

Paimin pernah terlibat kesibukan terorisme yaitu memimpin sebuah grup yang berencana meracuni sejumlah anggota polisi di Polda Metro Jaya.

Cuma saja sebelum melakukan aksinya, adam kelahiran Sragen, Jawa tengah, tersebut keburu diciduk pada Oktober 2011 silam.

Pernah ditahan di Polda Metro Jaya dan Mako Brimob, dia kemudian dipenjara di penjara Magelang selama 30 bulan. Dia terbuka dan keluar dari penjara di dalam April 2014 lalu.

‘Saya Katolik, hamba menjadi pembina para eks napi teroris’

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, mengakui upacara peringatan HUT RI di Balai Kota Solo merupakan yang pertama kalinya dihadiri para eks napiter.

“Kalau di balai kota baru tersebut tadi, sebelumnya belum pernah, ” akunya.

Ia biar menyambut baik sikap para eks napiter yang disebutnya “khidmat” mendaftarkan upacara tersebut.

Rudyatmo mengaku eks napiter bukanlah sesuatu yang baru baginya. Dia mengaku terlibat aktif di Yayasan Gema Salam, yang beranggotakan para eks napiter.

Yayasan tersebut dipimpin Jack Harun, eks napiter dalam kasus Bom Bali.

“Meskipun saya Katolik, tetapi saya diminta menjadi Pembina Yayasan Gema Salam. Makanya saya selalu mengajak untuk menilai dan menghormati sesama tanpa memandan suku, agama, golongan dan sebagainya, ” kata sang wali praja.

Awak Intelijen Negara: ‘Deradikalisasi sangat penting di tengah ancaman serangan narasi terorisme’

Sementara, Deputi VII Pranata Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto mengatakan, pihaknya memang meminta para eks napiter mengikuti upacara bendera tersebut.

“Selain memupuk nasionalisme, kehadiran eks napiter menjadi tanda kembalinya mereka ke Negara Kesatuan Republik Indonesia, ” kata Wawan.

Menurutnya, program deradikalisasi merupakan upaya “menetralisir pemikiran pelaku teror, dari yang awalnya radikal menjadi tidak radikal”.

“Kegiatan deradikalisasi menjadi sangat penting dilakukan di tengah ancaman serangan narasi terorisme dengan banyak menyebar lewat internet, ” katanya.

Dia juga menyebut bahwa “proses deradikalisasi bertujuan untuk merehabilitasi dan mereintegrasi eks napiter kembali ke masyarakat”.

Program itu dilaksanakan dengan terpadu oleh sejumah kementerian dan lembaga terkait serta melibatkan partisipasi publik, tambahnya.

Bagaimana awalnya Paimin dan Mamo akhirnya ‘bertobat’?

Paimin mengaku mulai menyadari bahwa apa dengan dilakukannya bersama dengan jaringan terorisme itu “salah”, setelah dia mengeram di penjara di Magelang, Jateng.

Dia juga mengaku bersalah kausa harus meninggalkan dua anaknya dengan masih bocaj saat mendekam di penjara.

“Setelah itu saya ingin segera pulang dan kembali ke keluarga saya, ” akunya.

Setelah bebas dan berkumpul kembali dengan keluarganya, dia mengiakan “sangat bersyukur” karena warga tak ada yang menolaknya.

“Saya oleh warga malah ditawari mau tinggal dalam sini apa nggak. Kemudian, awak dengan kerja bakti membangunkan sendi saya tanpa bayaran sedikit pula.

Alhamdulillah sambutan masyarakat sangat baik, ” aku Paimin.

Saat ini, dia mengaku terlibat program Peduli Lingkungan Kira-kira (PLS) untuk memberdayakan ekonomi awak sekitar yang tidak mampu.

Caranya dengan meminta warga beternak ikan gurame.

“Karena hamba sudah kembali ke rakyat, saya untuk rakyat. Jadi saya mengundang kiri kanan saya yang ekonominya seperti saya untuk bergabung dalam wadah PLS.

“Wadah untuk mendirikan ekonomi wilayah kami, ” ujarnya.

Mengenai Mamo mengaku bertobat lantaran membiarkan orang tuanya selama mendekam di penjara.

Setelah dibebaskan lima tahun redup, dia berjanji untuk merawat dan mengurus orang tuanya di abu umurnya.