Sumber gambar, Getty Images

Warga pada Yerusalem dan Gaza mengatakan mereka bersiap-siap atas memburuknya kondisi di tengah langsung berlanjutnya saling serang jarang kelompok Palestina dan prajurit Israel.

Kelompok Palestina meluncurkan ratusan roket ke arah Israel sejak Senin malam (10/05) sementara Israel melakukan gempuran udara di Gaza.

Kekerasan ini semrawut terburuk sejak 2018 porakporanda menyebabkan paling tidak 28 orang Palestina meninggal akibat serangan udara Israel tatkala tiga orang tewas pada wilayah Israel.

Kelompok Palestina, Hamas mengatakan mereka telah meluncurkan ratusan roket ke arah Yerusalem dan kawasan lain.

Hamas – yang menguasai Gaza – mengatakan mereka menyelenggarakan serangan untuk mempertahankan langgar al-Aqsa dari “agresi serta terorisme Israel” setelah berlaku bentrokan antara polisi Israel dan warga Palestina Senin lalu yang menyebabkan ratusan orang terluka.

PBB memperingatkan potensinya terjadi “perang dalam skala penuh” karena meningkatkan kekerasan ini.

Seorang warga negara Indonesia yang tinggal di Gaza, Husen, mengatakan “tak ada Lebaran bagi kami” tahun ini di tengah dentuman bom.

“Yang pasti tampaknya tahun ini tak ada Lebaran di Gaza. Warga Palestina terpaksa menerima kondisi ini. ” kata Husen, aktivis kemanusiaan dan wartawan yang pernah merasakan tiga kali agresi militer Israel.

Namun ia mengatakan dengan eskalasi ini dunia mulai membuka matanya terhadap warga Palestina.

Sumber gambar, EPA

“Ini sangat menyedihkan, warga Gaza harus berdarah dulu, harus agresi dulu, baru dunia mau melihat warga Palestina, ” kata Husen yang memperhitungkan agresi akan berlanjut sesudah menteri pertahanan Israel mengatakan akan mengerahkan 5. 000 tentara cadangan.

Ia pula mengatakan warga bisa wafat di mana saja karena “Gaza tak punya bungker, sementara di Israel sana ada tempat perlindungan, siap warga di sini mampu “meninggal di rumah atau di mana mereka berada” karena hantaman rudal.

Fady Hanona, seorang wartawan di Kota Gaza, dalam cuitan videonya menunjukkan ledakan perlu ledakan di Gaza dalam Rabu (12/05) pagi zaman setempat.

“Apa yang terjadi tak bisa dipercaya, ” katanya. “Apa yang awak alami pagi ini lebih seperti perang dibandingkan sebab tiga perang yang pernah kami alami sebelumnya. ”

Sumber gambar, Reuters

BBC juga berbicara dengan sejumlah warga di dua wadah tersebut sehubungan dengan apa yang mereka rasakan.

“Eskalasi akan berlanjut tampaknya”

Rushdi Abu Alouf, BBC News, Kota Gaza

Gaza tak pernah mengalami iklim seperti ini dalam kaum tahun terakhir. Tapi tanah air yang padat penduduk itu, tahu persis bagaimana agaknya hidup dalam kondisi perang.

Jalan utama yang adalah pusat perbelanjaan terlihat polos, hanya beberapa diantara kita yang belanja. Sebagian besar toko menutup menjelang Idul Fitri.

Pengeboman tak mereda dan bahana roket Palestina dan serangan udara Israel bergaaung pada seluruh wilayah pada Selasa (11/05) pagi.

Sumber tulisan, Getty Images

Beberapa meter dari kantor kami dalam Gaza, ledakan besar berdentum dan kepulan asap tampak setelah serangan udara Israel menghantam gedung apartemen dengan ditempati ratusan orang. Serangan itu menyebabkan tewasnya besar pemimpin jihad militer golongan Islamis yang bersembunyi dalam gedung itu.

“Ini terorisme Israel, kami warga biasa tak bersalah. Anak-anak beta ketakutan, mereka tak mau pulang lagi karena takut terkena serangan udara, ” teriak seorang perempuan, yang menggendong anaknya saat menyelamatkan diri dari gedung.

Semenjak saling serang terjadi, warga banyak yang bersembunyi pada rumah-rumah mereka agar selamat dari pengeboman. Namun di Gaza tak ada wadah untuk berlindung atau sirene sebagai petanda serangan udara. Jadi penduduk tak punya pilihan lain kecuali bersembunyi di dalam rumah.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

“Kami tidak tahu berapa lama perselisihan ini akan berlangsung. Boleh eskalasi akan berlanjut, ” kata seorang warga, Sherin Emadadein.

“Saya pokok empat anak, kami status di apartemen tujuh tingkat. Tak ada gedung lembah tanah, saya tidak cakap kemana melarikan diri bila gedung kami dibom. ”

Sherin berbicara dengan aku melalui telepon saat ia membeli makanan dari satu-satunya toko yang buka dalam daerah Gaza barat.

“Saya harusnya membeli cokelat & makanan lain untuk memuliakan Idul Fitri, namun kini kami tak tahu berapa lama konflik berlangsung dan saya hanya bisa membeli keperluan pokok, ” katanya.

Bersembunyi di lemari’

Yolande Knell, juru Timur Tengah, Yerusalem

Kota Ashkelon di Israel selatan adalah wilayah dengan menjadi sasaran terberat serbuan roket dari Gaza.

Kaum sayap Hamas memperingatkan mereka akan membuat kehidupan di sana laksana “neraka” bagi penduduk setempat.

Suara derung sirene secara konstan membina warga berlarian untuk berlindung.

Sumber gambar, Reuters

Dalam udara, terdengar dentuman sungguh-sungguh dan kepulan asap suci di langit biru. Bentuk pertahanan Israel, Iron Dome menangkal sebagian besar peluru yang diluncurkan dari Gaza, tak jauh dari tanah air itu.

Namun, sejumlah gedung terhantam. Dua perempuan wafat, puluhan dilarikan ke sendi sakit untuk dirawat.

Sumber gambar, Getty Images

Lupa seorang perempuan bercerita ketika menakutkan saat salah kepala roket menghantam rumahnya serta ia bersembunyi di lemari.

Banyak yang bersiap bakal terjadi saling serang lebih lanjut dalam beberapa keadaan ke depan.

“Ini akan terjadi terus, kekerasan seperti ini, ” kata lengah seorang warga di tanah air itu, Yossi Asulin.

“Ada yang terbunuh. Karakter di sini ingin masalah (dengan Hamas) segera diselesaikan, ” katanya.