Naftali Bennett (March 2021)

Sumber gambar, AFP

Naftali Bennett telah lama memendam ambisi menjadi perdana menteri Israel. Namun tak disangka kesempatan itu akhirnya hadir walau partai bentukannya, Yamina, hanya memenangi tujuh kedudukan dalam pemilihan umum lalu.

Bennet muncul sebagai calon kuat perdana gajah setelah menerima tawaran berkoalisi dengan tokoh oposisi, Yair Lapid, sekaligus mendepak Benjamin Netanyahu dari kekuasaan selama 12 tahun.

Padahal, pria berusia 49 tahun itu dulu sempat digadang-gadang sebagai murid didikan Netanyahu. Bahkan, Bennett pernah menjadi kepala staf Netanyahu dalam 2006 sampai 2008 sampai hubungan keduanya retak.

Benjamin Netanyahu (kiri) dan Naftali Bennett

Sumber gambar, Reuters

Bennett membelakangi Partai Likud pimpinan Netanyahu dan bergabung dengan kelompok sayap kanan Rumah Yahudi. Bersama partai keagamaan tersebut, dia menjadi anggota parlemen setelah sukses dalam pemilu 2013.

Bennet lantas menjabat sebagai gajah ekonomi dan menteri pendidikan dalam setiap pemerintahan liga sampai 2019, ketika aliansi Kanan Baru bentukannnya kandas meraih kursi dalam penetapan tahun itu.

Namun, selang 11 bulan kemudian, Bennett mampu kembali ke dewan perwakilan rakyat sebagai ketua Partai Yamina. Dalam bahasa Ibrani, Yamina berarti ‘arah kanan’.

Pekerjaan politik Bennet dimulai setelah namanya terangkat melalui biro kemiliteran dan dunia usaha. Pensiun sebagai anggota pasukan khusus Angkatan Darat Israel, Bennet berbisnis dengan menciptakan dan menjual perusahaan hi-tech. Usaha ini membuat dirinya berstatus miliarder.

Di negeri politik, Bennett kerap dicap ua-nasionalis. Bahkan, dia membicarakan dirinya lebih berhaluan kanan ketimbang Netanyahu.

“Tidak pernah ada negara Palestina”

Pandangannya tercermin pada suaranya dengan gencar membela Israel sebagai negara bangsa Yahudi beserta klaim sejarah dan keagamaan Yahudi terhadap Tepi Barat, Jerusalem Timur, dan Dataran Tinggi Golan Suriah—wilayah-wilayah dengan diduduki Israel sejak Konflik Timur Tengah 1967.

Tempat pernah menyebut Tepi Barat tidak berada dalam perebutan Israel karena “tidak sudah ada negara Palestina dalam sini”.

Adapun percekcokan Israel-Palestina, menurutnya, tidak mampu diselesaikan tapi harus dilanggengkan.

Baca juga:

Sejak lama Bennett mengadvokasi hak permukiman Yahudi dalam Tepi Barat (dia pernah menjadi ketua Dewan Yesha, kelompok perwakilan politik buat pemukim Yahudi), meskipun tempat mengatakan Israel tidak punya klaim atas Gaza (ketika Israel menarik pasukan dan pemukim pada 2005).

Bertambah dari 600. 000 karakter Yahudi menetap di 140 permukiman di Tepi Barat dan Jerusalem Timur, yang dianggap ilegal oleh dekat seluruh komunitas internasional, namun dibantah Israel.

Keberadaan permukiman-permukiman ini adalah topik paling panas antara Israel dan Palestina. Israel berkeras membelanya, sedangkan Palestina ingin supaya semua permukiman ditiadakan beserta negara yang merdeka di Tepi Barat dan Gaza dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kota.

Mencampuri kesibukan permukiman, apalagi menghentikan aksi permukiman, dianggap Bennett mengaduk-aduk ribut. Bahkan, oleh Bennet, Netanyahu tidak bisa dipercaya dalam menangani urusan ini.

israel

Sumber gambar, Getty Images

Karena dia lancar berbahasa Inggris (mengingat orang tuanya lahir di Amerika Serikat) serta piawai dalam perkara media, Bennett kerap tampil di jaringan televisi ganjil guna membela aksi-aksi Israel.

Pernah suatu kali dia berdebat dengan seorang bagian parlemen Israel keturunan Arab yang menentang permukiman Israel di Tepi Barat. Era itu dia mengatakan: “Ketika Anda masih berayun dalam pohon-pohon, kami sudah punya negara Israel di sini. ”

Bennett menolak pendirian negara Palestina yang berdampingan dengan Israel—atau kerap disebut ‘solusi dua negara’ untuk mengatasi konflik Israel-Palestina yang diadvokasi komunitas universal, termasuk Presiden Amerika Konsorsium, Joe Biden.

“Selama saya punya kekuasaan dan kendali, saya tidak akan menyerahkan tanah Israel satu sentimeter pun. Titik, ” cetusnya dalam wawancara pada Februari 2021.

Bersamaan dengan aksi itu, Bennett ingin mengisbatkan kekuasaan Israel di Tepi Barat—wilayah yang dia balik dengan nama Yudea serta Samaria—dengan menganeksasi sebagian luhur kawasan tersebut.

Bennett pula berpandangan keras saat berurusan dengan ancaman dari kelompok Palestina.

Pada 2013 dia mengatakan orang Palestina “teroris seharusnya dibunuh, bukan dibebaskan”.

Padahal balasan mati tidak diterapkan dalam Israel, kecuali saat mengeksekusi Adolf Eichmann—perancang Holokos yang divonis bersalah pada 1961 dan digantung setahun berikutnya.

Dia menolak gencatan senjata dengan para pemimpin Hamas di Gaza, yang justru membuat pertikaian bereskalasi pada 2018. Dia juga menuding kelompok Hamas membunuh puluhan warga Palestina sendiri, dengan tewas akibat serangan suasana Israel guna merespons tembakan roket dari Gaza saat pertikaian pada Mei 2021.

Naftali Bennett

Sumber gambar, Naftali Bennett

Slogan-slogan mengenai rasa angkuh sebagai orang Yahudi & kemandirian bangsa adalah jargon yang kerap disuarakan Bennet.

Pria yang memakai kippah—atribut agama Yahudi dalam bagian kepala kaum pria—ini memarodikan surat kabar New York Times dan harian sayap kiri Israel, Haaretz, karena kedua media itu mengkritik tindakan-tindakan Israel.

Dalam sebuah video pada media sosial, dia menyamar sebagai seorang hipster & berulang kali mengucapkan “maaf”. Adegan selanjutnya, dia mengungkap penyamarannya dan berkata: “Mulai hari ini kita meninggalkan meminta maaf”.