Kepolisian mengikuti keterlibatan Lembaga Amil Zakat Abdurrohman Bin Auf (LAZ-ABA) dalam penyaluran ribuan kotak amal di bermacam-macam minimarket di seluruh Indonesia, yang diduga digunakan untuk aktivitas terorisme Jamaah Islamiyah.

Sementara tersebut, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengaku siap membuat aturan yang lebih ketat di tengah pengesahan pemerintah tak punya aturan rinci terkait hal ini.

Di sisi lain, pengamat terorisme menyebut pendanaan aksi teroris lewat kotak amal ini sudah dilakukan sejak konflik Poso dan menyebut Jamaah Islamiyah ‘pintar mengatur aset’.

Kepolisian Indonesia menangkap puluhan anggota dan pentolan Jamaah Islamiyah di Lampung selama Oktober-Desember 2020.

Terakhir, Tim Detasement Khusus (Densus) 88 Antiteror meringkus Zulkarnaen pada Kamis (10/12). Zulkarnaen dianggap punya peran penting di dalam rangkaian aksi teroris di Nusantara.

Tempat adalah pelatih akademi militer di Afghanistan selama 7 tahun; arsitek kerusuhan di Ambon, Ternate, & Poso pada 1999-2000; termasuk penggagas peledakan kediaman Kedutaan Filipina di Menteng pada 2000.

“Yang bersangkutan (juga) adalah otak peledakan gereja berbarengan pada malam Natal dan Tahun Baru pada tahun 2000 & 2001, kasus Bom Bali I tahun 2002, kasus Bom Marriot pertama tahun 2003, kasus Bom Kedubes Australia tahun 2004, urusan Bom Bali II pada 2005, yang saat ini sudah menjadi DPO selama 18 tahun, ” kata juru bicara Mabes Polri, Ahmad Ramadhan dalam siaran persnya, Senin (14/12).

Untuk memutar gambar ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Sebelum interpretasi Zulkarnaen, kepolisian juga menangkap puluhan tersangka lain terkait jaringan JI, termasuk tiga pengurus kotak pemberian Baitul Maal Abdurrohman Bin Auf (Baitul Maal ABA) di Terkatung-katung. Dari keterangan mereka, terkuak kotak amal diduga digunakan untuk mendanai aktivitas terorisme.

Ada 13. 000 tempat amal yang tersebar di Indonesia, sebanyak 4. 000 di antaranya berada di Lampung, menurut pengkajian polisi. Dana yang terkumpul dimanfaatkan untuk kegiatan terorisme JI, tercatat untuk membeli senjata.

“Itu (keterangan) dari tersangka seorang terorisme, terbukanya kan di situ, ” kata Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Zahwani Pandra Arsyad kepada BBC News Indonesia, Selasa (15/12).

Polisi kemudian meneliti keterlibatan Baitul Maal ABA, suatu lembaga pengelola zakat, infaq, & shodaqoh di bawah naungan Yayasan Abdurrahman Bin Auf yang mencatat kotak-kotak amat tersebut di minimarket. Berdasarkan laman resminya, yayasan ini berakta No. 22 tanggal 21 Oktober 2004 yang disahkan Notaris H. Haryanto, SH, MBA.

“Yang sahih yayasan yang disebutkan tadi BA-ABA itu Baitul Maal Abdurrohman bin Auf itu ya benar adanya, ya ini organisasi yayasan yang sudah bergerak dari dulu, ” kata Pandra.

Pandra juga mengimbau para pelaku ritel untuk lebih cermat mengidentifikasi identitas dari organisasi-organisasi yang menitipkan kotak amal di zona usahanya.

Pengusaha ritel akan ketatkan peraturan kotak amal

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Nicholas Mendey mengatakan penitipan kotak amal dalam setiap minimarket sudah melalui modus. Kata dia, selama ini minimarket telah menjalankan ketentuan dalam arahan kotak amal di gerai itu.

“Artinya, itu tidak sembarang siapa selalu menaruh kotak amal. Jadi intinya, semua harus menyerahkan proposal, profilnya, organisasi profilnya, kemudian juga ada wawancara. Artinya, ketika itu diletakan gerai ritel modern, semuanya melewati satu mekanisme, ” kata Roy kepada BBC News Indonesia, Selasa (15/12).

Namun, sebut Roy, pihak peritel tidak tahu-menahu hasil uang infak yang terkumpul di kotak amal lantas disalurkan ke mana.

“Sejauh itu memberikan surat-surat resmi juga, mempunyai yayasan, dan juga memiliki syarat-syarat yang sudah kita tetapkan, ya kita coba menghadap. Tapi penggunaannya, untuk pemakaiannya itu kita tak tahu sama sekali, ” sendat Roy.

Aprindo, kata Roy, sejauh itu terbuka untuk membuat regulasi bertambah ketat lagi terkait dengan penempatan kotak amal di gerai minimarket. “Jadi, bisa saja, kita melaporkan (terlebih dulu) ke pihak terkait atau pihak berwenang atau lembaga yang sekiranya memang komptenen, untuk kami lakukan itu, ya kita siap sedia saja, ” katanya.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Belum ada aturan soal kotak amal

Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin mengakui pemerintah tak punya hukum rinci mengenai kotak amal.

“Tidak semua harus diatur oleh negara, jadi kami hanya berpesan saja pada masyarakat agar berhati-hati, ” katanya kepada BBC News Nusantara, Selasa (15/12).

Dalam hal ini, Kemenag mengimbau agar masyarakat memberi infak ke lembaga-lembaga kredibel yang terafiliasi dengan ormas Islam yang sudah dikenal, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

“Kan kita punya lembaga amil zakat di seluruh Nusantara, punya laz-laz yang sangat mustakim, Dompet Dhuafa, Lasismu lasisnu, NU punya Muhammadiyah punya, ” sirih Kamaruddin.

Kotak amal modus lama

Direktur IPAC, Sidney Jones, mengemukakan penggalangan dana untuk aksi terorisme bukan pertama kali terjadi. Ia mengamati hal tersebut sudah terjadi saat konflik Poso berlangsung.

“Karena pada masa Poso itu melakukan hal yang sama di Kalimantan, antara lain seperti praja Balikpapan dan Samarinda. Bukan segalanya yang baru, ” katanya kepada BBC News Indonesia, Selasa (15/12).

Dia melanjutkan Jamaah Islamiyah bukanlah gabungan radikal kemarin sore yang tak memiliki pengalaman dalam mendulang pendanaan.

“JI pada umumnya, jauh bertambah pintar mengatur asetnya, dari di organisasi lain, dan mereka juga satu-satunya organisasi yang punya muslihat jangka panjang. Mereka betul-betul tahu 25 tahun ke depan, tidak ada organisasi lain yang mampu bersaing dengannya, ” ungkap Sidney.

Kekuatan JI pasca operasi antiteror di Terkatung-katung

Sidney mencatat setidaknya lebih dari 50 orang pengikut Para Wijayanto, tercatat pejabat teras JI ditangkap. Ditambah lagi pembekukan anggota JI di Lampung baru-baru ini, menurut Sidney, “Itu satu pukulan berat sekadar untuk organisasinya. ”

Ia memperkirakan para pengikut JI ini “akan membekukan kegiatannya” beberapa tahun ke depan, “Tetapi organisasi ini tidak akan hilang, dan pasti ada kapasitas untuk regenerasi”.