Kepolisian menyatakan kebakaran yang melanda gedung Kejaksaan Mulia diduga kuat bukan disebabkan aliran pendek, melainkan unsur pidana.

Kesimpulan itu didasarkan hasil analisis tim kepolisian berdasarkan temuan di tempat lokasi kejadian dan pemeriksaan terhadap 131 orang saksi.

“Sementara penyidik berkesimpulan terdapat dugaan peristiwa kejahatan, ” kata Kabareskrim Polri, Listyo Sigit Pramono, usai menggelar melangsungkan perkara bersama sejumlah pejabat Kejagung, Kamis (17/09) siang.

“Puslabfor menyimpulkan bahwa sumber api tersebut bukan karena hubungan arus pendek namun diduga karena open flame atau nyala api terbuka, ” lanjut Sigit

Gedung Kejaksaan Agung mulai melalak pada Sabtu petang, 22 Agustus 2020 lalu, dan baru bisa dipadamkan keesokan harinya, Minggu cepat, 23 Agustus 2020.

Kebakaran gedung Kejagung ini sempat menimbulkan spekulasi di umum, yang mengaitkan dugaan keterlibatan seorang jaksa dalam eksekusi kasus manipulasi Djoko Tjandra.

Tuduhan ini dibantah Kejaksaan Agung dan sejumlah pejabat terkait kemudian meminta masyarakat tidak memperkirakan atas penyebab kebakaran tersebut.

Dalam bervariasi kesempatan, otoritas Kejagung menyatakan bahwa berkas-berkas penting -di antaranya berkas perkara Djoko Tjandra- tidak mengikuti terbakar.

Lebih lanjut Listyo mengatakan bagian kepolisian dan Kejaksaan Agung membenarkan meningkatkan status penyelidikan menjadi penyidikan terkait kebakaran tersebut.

“Kita sepakat di gelar tadi untuk meningkatkan pengkajian menjadi penyidikan dengan dugaan Pencetus 187 dan Pasal 188 KUHP, ” kata Komjen Listyo Sigit Prabowo.

Bagaimana reaksi Kejagung?

Kejaksaan Istimewa menyatakan pihaknya mengapresiasi hasil penyelidikan kepolisian yang mengungkap ada unsur pidana dalam kebakaran gedung pokok Kejagung.

“Pada prinsipnya, pimpinan Kejaksaan Agung mendukung penuh pengungkapan kejadian pidana ini, ” kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Ijmal (Jampidum) Fadil Zumhana, Kamis (17/09).

Dia mengatakan, sejak awal Kejagung berkeras hati mengungkap peristiwa kebakaran tersebut. Tempat juga mengatakan pihaknya selalu main sama dengan polisi.

“Ini kami lakukan secara bersama-sama sejak awal terbentuknya posko bersama di Kejaksaan Mulia, ” ujarnya.

“Sehingga kami membenarkan pada semua untuk lebih detil mengungkap peristiwa pidana ini. Tentu harus ditingkatkan ke penyidikan, analisis, itu gunanya untuk membuat sah satu peristiwa pidana, menemukan tersangka dan bukti-bukti yang terkait secara peristiwa pidana itu, ” jelasnya.

Menurutnya, Jaksa Agung ST Burhanuddin berkeras hati agar kasus ini dilakukan secara transparan. Dia meminta semua bagian memantau penuntasan kasus kebakaran ini.

“Pada rekan-rekan media juga kami persilakan memantaunya baik penyidikan maupun penuntutan di persidangan, ” tambahnya.

Siapa saksi-saksi yang sudah diperiksa?

Dalam tanda lainnya, Kabareskrim Polri, Listyo Sigit Pramono mengatakan, pihaknya sudah membuktikan 131 orang saksi.

Mereka adalah petugas kebersihan, office boy, pegawai Kejagung, sejumlah jaksa, serta sejumlah terampil kebakaran dan pidana.

“Kami kemudian melakukan pendalaman lebih lanjut di pada proses penyelidikan, ” kata Listyo.

Mengenai barang bukti yang diamankan adalah CVR kamera pengawas (CCTV), tepung arang sisa kebakaran, potongan semak sisa kebakaran, beberapa botol plastik berisi cairan, serta jirigen berisi cairan.

Barang bukti lainnya adalah tong bekas lem, kabel atau instalasi listrik, minyak pembersih. “Semuanya disimpan di gudang cleaning service, ” katanya.

Dari mana asal api?

Disebutkan api muncul dari dasar enam gedung Kejagung, yaitu kawasan rapat biro kepegawaian, dan lalu menjalar ke ruangan serta dasar lain.

“[Kobaran api] Yang dipercepat terjadi karena adanya akseleran di dalam lapisan luar di gedung serta ada beberapa cairan yang menyimpan senyawa hidro karbon serta situasi gedung yang hanya disekat oleh bahan yang mudah terbakar, ” papar Listyo.

Dari hasil olah TKP, menurut Listyo, Puslabfor menyimpulkan kalau sumber api tersebut bukan karena hubungan arus pendek.

“Namun diduga karena oleh ‘nyala api terbuka’ ( open flame ), ” ujarnya.

Dan pada saat kejadian, mulai 11. 30 datang 17. 30 WIB, kepolisian menemui “ada beberapa tukang dan orang-orang yang berada di lantai enam ruang biro kepegawaian yang sedangkan melakukan kegiatan renovasi. ”

“Sehingga tersebut yang kemudian salah-satu yang saya dalami, ” tambahnya.

‘Ada saksi berusaha memadamkan kebakaran’

Tim puslabfor juga mendapati fakta “ada saksi yang keahlian dan berusaha memadamkan kebakaran tersebut”.

“Namun karena tidak terdukung oleh infrastruktur dan sarana-prasarana yang memadai, jadi kemudian api tersebut semakin tumbuh, ” ungkap Listyo.

Ketika suluh makin membesar, pihak Kejagung meminta pertolongan tim pemadaman kebakaran.