Sumber gambar, Muhammad Iqbal

Tahun depan, Jueni semestinya sudah bisa pulang ke rumah sekaligus memeluk ibunya, bersenda gurau lagi dengan empat saudaranya, bekerja, mengumpulkan uang untuk membeli motor impiannya RX King serta membangun rumah tangga.

Impian-impian pria berusia 25 tahun itu pernah dibicarakan secara Enjum, ibunya. Namun semua cita-cita tersebut ambruk akibat kebakaran hebat yang mengambil sebagian Lapas Kelas I Tangerang, Banten, Kamis 9 September lalu.

Juaeni bersama dengan 43 objek lainnya masuk ke pada daftar narapidana yang tak selamat.

Baca Juga:

“Nanti kalau sudah di vila, sudah tua umurnya, sungguh kata saya jangan terulang lagi. Lebih baik cari kerjaan. Terus untuk masa depan, punya istri. ‘Iya’ kata dia ‘mudah-mudahan’, ” kata Enjum mengenang perbincangan itu sambil menyeka minuman mata.

Jueni sudah menjalani tujuh tahun masa hukuman dari vonis 13 tahun enam kamar atas kasus kepemilikan narkotika. Dia mendekam di tangsi usai lulus Sekolah Membuang Kejuruan (SMK) saat usianya masih 18 tahun.

Terakhir kali, Enjum dapat memegang wajah anaknya dua tahun silam saat besuk ke dalam penjara. “Ini mah udah dua tahun nggak bisa dibesuk, ” kata Enjum dengan suara bergetar.

Sumber gambar, Muhammad Iqbal

Selama dua tahun terakhir, Enjum dan keluarga hanya bisa berbicara dengan Jueni melalui sambungan telepon. Jueni terakhir melakukan komunikasi di Sabtu, 4 September ataupun empat hari sebelum kebakaran.

Enjum mengatakan, anaknya memiliki kebiasaan menelpon empat saudaranya yang lain saat malam. Kala mengobrol pada sambungan telepon, Enjum mengiakan sering meminta Jueni mengakhiri obrolannya di telepon.

Sebabnya, dia tak kuat mendengar Jueni mengeluh kangen. “Katanya kalau ngobrol periode, ingat ingin pulang sekadar, ingat sama orang sampai umur gitu, ” kata Enjum menirukan kata-kata anaknya.

Sumber gambar, Muhammad Iqbal

Enjum masih ingat betul, kurang waktu lalu, Jueni mengeluh kesal dengan keadaan dirinya di Lapas.

“Kesal, mau pulang. Kata saya, ‘Ya gimana , kan nggak sama kayak di kobong [pesantren tradisional]. Kalau di kobong membangun mau pulang bisa surat saja, kalau di danau kan gimana mau kembali? ‘” kata Enjum era ditemui wartawan Muhammad Iqbal yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Enjum tetap meminta anaknya bersabar melaksanakan kehidupannya. Sebab, kata Enjum, dirinya dan suaminya, Karna, 56 tahun, — yang sehari-hari berdagang bakso putaran kampung — sudah mengajukan pembebasan bersyarat.

“Nggak lama lagi juga bersetuju bebas dia, sudah aku urus-urusin itu (bebas bersyarat) pihak Lapas juga, ” kata warga Kabupaten Serbu, Banten ini.

Masih belum yakin

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Handout/Bal/

Sampai kini, Enjum masih tidak percaya Jueni masuk daftar puluhan objek tewas. “Karena anaknya di [bagian] Blok A, ” kata Enjum.

Enjum berharap tim DVI Polri segera mengidentifikasi jasad yang memiliki kesamaan DNA dengannya. Ia juga ingin meyakinkan dirinya bahwa Jueni anaknya sudah meninggal, secara cara melakukan prosesi pemakaman selayaknya.

“Kalau sudah pulang, benar berarti, sudah tes DNA, berarti sudah sesuai. Berarti sudah itu anak saya, ini kalau belum ada kepastian itu sepertinya nggak percaya itu budak saya, ” kata dia.

Dibuka sejujur-jujurnya

Sumber tulisan, Muhammad Iqbal

Upi, om Jueni, merasa skeptis secara alasan yang dijabarkan Menteri Hukum dan Ham Yasonna Laoly bahwa musabab kebakaran Lapas adalah arus rendah listrik.

“Saya minta dibuka dengan sejujur-jujurnya dibuka secara keterbukaan ke masyarakat khususnya ke keluarga korban barang apa yang sebenarnya terjadi dalam Lapas Tangerang yang menjadi korban kebakaran ini.

“Karena itu kan Lapas kelas A. Masa bercakap-cakap sih fasilitasnya tidak rupawan? ” kata Upi, yang mengurusi segala macam kesibukan Jueni saat ini.

Kalau ada kelalaian, kata Jueni, siapa yang punya kebijaksanaan di situ? Apakah Lapas, apakah penjaga blok? “Ya kita nggak tahu pastinya, yang tahu hanya itu dan kepolisian lebih tahu siapa yang bertanggung berat, ” kata Upi.

Upi mengatakan, jika nantinya diketahui bahwa kejadian nahas dengan menimpa keponakannya ada unsur kesengajaan, dirinya meminta segera diberitahukan, agar ada upaya keadilan yang dilakukan untuk para korban.

Polisi temukan unsur pidana

Sumber tulisan, ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/

Sekitar ini kepolisian telah memasang status kasus kebakaran Lapas Kelas I Tangerang sejak penyelidikan ke penyidikan. Berarti, dalam kasus ini terdapat unsur pidana yang kudu dipertanggungjawabkan.

Belum ada tersangka, tapi kepolisian bakal melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi.

Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan, mengatakan akan memanggil Kalapas Kelas I Tangerang bersama 14 pegawai lapas yang melaksanakan piket hari tersebut.

Selain itu, kepolisian juga akan menggali petunjuk dari “tujuh orang awak binaan, pemeriksaan pada 3 orang anggota damkar, 3 orang saksi dari PLN. ”

“Pemeriksaan sebagai saksi dilaksanakan pada hari Senin, 13 September 2021, di Polda Metro Jaya, ” Ahmad Ramadhan kepada wartawan, Sabtu, (11/09).

Sejumlah barang bukti yang disita kepolisian antara lain rekaman CCTV, belasan HP, gembok dan anak kunci, “serta barang bukti lain terkait tindak pidana”.

Kuli Muhammad Iqbal di Terjang berkontribusi dalam artikel ini.