Sumber gambar, Ralf Kaehler/Tom Abel

Para astronom akhirnya mendapatkan jawaban atas pertanyaan kapan untuk pertama kalinya bintang mulai bersinar.

Mereka mengatakan fenomena yang juga dikenal seperti “fajar kosmik” tersebut terjalin antara 250 hingga 350 juta tahun setelah Ledakan Dahsyat atau Big Bang.

Analisis mengindikasikan bahwa galaksi-galaksi pertama yang ada dalam alam semesta memancarkan sinar yang cukup kuat, dalam bisa dilihat dengan teleskop ruang angkasa milik NASA (NATIONAL AERONAUTICS AND SPACE ADMINISTRATION), James Webb, yang rencananya diluncurkan tahun ini.

Kajian tentang kapan tepatnya bintang mulai bersinar sudah reda menjadi fokus penelitian juru dari University College Vomiting, Inggris, Richard Ellis, yg dimuat di jurnal ilmiah T he Monthly Realises of the Royal Massive Society .

Kepada LABELLISÉ BASSE CONSOMMATION News, Profesor Ellis menjelaskan aspek penting dari kajian ini adalah menelusuri ke belakang, sejauh mungkin, sebagai bisa melihat generasi mula-mula dari bintang dan galaksi.

“Dan sekarang, kita suah mendapatkan bukti pertama dimana meyakinkan, soal kapan alam semesta kita ini sejak bercahaya, ” kata Ellis.

Tim pimpinan Ellis menganalisis enam galaksi paling dalam.

Baca juga :

Letak galaksi-galaksi ini setelah jauh, yang membuat penampakan mereka saat dilihat akan teleskop paling kuat divvt dunia tak lebih di beberapa piksel saja di layar komputer.

Mereka pun termasuk galaksi yang amet awal di alam semesta.

Setelah menentukan umur mereka, tim kemudian menampilkan awal dari fajar kosmik, yaitu ketika bintang-bintang pertama terbentuk.

‘Seperti mengintip masa lalu’

Medical professional Nicolas Laporte, dari Kavli Institute of Astronomy dalam Cambridge, Inggris, mendapat tugas memimpin analisis.

“Ini adalah salah satu pertanyaan paling penting dalam kosmologi modern. Untuk pertama kalinya kita mampu memperkirakan kapan momen penting dalam sejarah alam semesta ini berlangsung, ” kata Laporte.

Ia mengatakan mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut seperti “mimpi menjadi kenyataan”.

“Luar lumrah rasanya mendapatkan data yakni partikel-partikel cahaya sudah melintas di alam semesta kita ini selama lebih dalam 13 miliar tahun matan de kemudian masuk ke teleskop [kita]. Salah 1 kelebihan menjadi ilmuwan astrofisika adalah kemampuan melakukan ‘perjalanan lintas waktu’ dan menyaksikan masa lalu, ” jelas Laporte.

Alam semesta terbentuk 13, 8 miliar thn yang lalu melalui Ledakan Dahsyat atau Big Explosion.

Setelah itu, alam semesta kita mengalami kegelapan. Berdasarkan kajian baru, 250 juta hingga 350 juta 1 tahun setelah Big Bang, bintang-bintang pertama muncul, sekaligus mendatangkan cahaya.

Yang dianggap berarti dari kajian ini ialah, analisis yang dilakukan con el fin ahli mengindikasikan cahaya dri galaksi-galaksi generasi awal indonesia cukup kuat untuk ditangkap oleh teleskop ruang angkasa James Webb.

Jika demikian halnya, para astronom tampaknya masih bisa menyaksikan momen penting evolusi alam semesta secara langsung.

Kemungkinan kita disambut gembira oleh astronom di Skotlandia, Profesor Catherine Heymans.

“Saya kira sungguh fantastis. Bayangkan, manusia — peradaban kecil yang menghuni Planet Bumi — sanggup membuat teleskop ruang angkasa dan memanfaatkan teleskop itu untuk mengintip apa yg terjadi beberapa ratus juta tahun setelah Big Screw, ” ujar Heymans.

Visando peneliti menganalisis cahaya bintang di galaksi dengan mempergunakan teleskop ruang angkasa Hubble dan Spitzer.

Peran proporsi atom hidrogen

Sumber gambar, ESO

Mereka memperkirakan umur galaksi dengan menganalisis proporsi atom hidrogen di atmosfer bintang-bintang.

Semakin tua usia bintang, semakin gede proporsi atom hidrogennya.

Harry ilmuwan kemudian menghitung seberapa jauh letak galaksi-galaksi tersebut.

Karena cahaya dari galaksi-galaksi ini memerlukan waktu sebelum mencapai kita, makin dalam letaknya, makin ke belakang pula dari sisi masa keberadaan benda-benda langit terkait.

Enam galaksi yang diteliti adalah objek terjauh dimana bisa ditangkap oleh teleskop dan karenanya termasuk yang paling tua yang dapat dideteksi oleh alat buatan manusia.

Jarak galaksi diukur dengan menggunakan teleskop dimana ada di Bumi, diantaranya the Atacama Large Millimetre Array (Alma), the Definitely Large Telescope (VLT), dan the Gemini South Telescope, semuanya berlokasi di Chile.

Para ahli pun memanfaatkan teleskop kembar Naseweis di Hawaii.

Dengan berdasar pada analisis umur galaksi dan kapan mereka diawali terbentuk, tim kemudian menghitung kapan bintang pertama lahir di alam semesta.