• Famega Syavira Putri
  • BBC News Indonesia

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Sumber gambar, Davies Surya

Puluhan ribu carik koran memenuhi lantai dua sebuah perpustakaan di Surabaya. Sebagian dijilid, sisanya dibungkus plastik sesuai bulan terbitnya masing-masing.

Kamar-kamar & ruangan di lantai mulia penuh dengan rak menyimpan buku dan majalah, pula beberapa memorabilia. Di antara berbagai dokumen itu, tersedia naskah asli salah seorang penulis Indonesia paling berguna, Pramoedya Ananta Toer dengan ditulis di kertas pembungkus semen.

Pemilik koleksi itu adalah Oei Hiem Hwie, 86 tahun. Pada tarikh 1965, Hwie yang menyala sebagai wartawan dituduh jadi anggota PKI dan ditahan di berbagai penjara, hingga berakhir di Pulau Kejar.

Di pulau tersebut dia berteman dengan sastrawan Pramoedya Ananta Toer dan membantu Pram menyelundupkan naskah-naskah yang dianggap terlarang di era Orde Baru, muncul dari Pulau Buru.

Saat ditemui wartawan BBC News Indonesia Famega Syavira Putri, di Taman bacaan Medayu Agung, Surabaya introduksi September lalu, Hwie mengisahkan kisah hidupnya.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Menuruti menjadi Indonesia

Hwie berdiri pada 26 November 1935 dari keluarga yang disebutnya “sulit bila disebut tim Tionghoa asli”.

Ibunya, The Lekas Nio, adalah peranakan Tionghoa-Jawa yang sudah beberapa generasi tinggal di kaki Gunung Merbabu, Magelang, dan tidak bisa teristimewa bicara bahasa Tionghoa. Ayahnya, Oei Tiong Han, ada di Hokkian dan kemudian merantau ke Jawa.

Sebagai keturunan Tionghoa di dalam masa itu, menjadi Nusantara bukan hal yang otomatis terjadi. Hwie memutuskan menjadi warga negara Indonesia atas pilihannya sendiri.

Kelak, negeri yang dia pilih tersebut justru membawanya ke tangsi.

Karena ayahnya adalah masyarakat negara asing, meskipun muncul dan besar di Nusantara, Hwie mengikuti kewarganegaraan ayahnya. Hingga muncul aturan perdana pada tahun 50-an, kalau warga keturunan Tionghoa harus memilih untuk menjadi WNI atau warga negara Tiongkok.

Awalnya, Hwie sempat ingin tetap mempertahankan kewarganegaraan desa leluhurnya.

Namun kecintaannya pada Indonesia akhirnya menang, dan dia resmi menuruti menjadi WNI.

Pada memoarnya, Dari Pulau Buru Sampai Medayu Agung, Oei Hiem Hwie menulis bahwa dia memilih menjadi WNI karena “berarti ikut menolong kemajuan Indonesia dan sosialisme yang kami banggakan”.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Hwie aktif berorganisasi di Baperki.

Baperki merupakan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, organisasi massa yang didirikan oleh warga keturunan Tionghoa yang bertujuan menentang segregasi berdasarkan keturunan seseorang.

“Di kepala dan ganjil saya tertanam perjuangan melayani diskriminasi, bagaimana berintegrasi secara rakyat Indonesia dan berjuang bersama-sama mewujudkan tatanan sosialisme, ” kata Hwie di dalam memoarnya.

Organisasi ini awalnya bernama Baperwatt, atau Lembaga Permusyawaratan Warganegara Keturunan Tionghoa. Namun nama ini dinilai membatasi keanggotaan pada wangsa Tionghoa saja. Maka, Baperwatt diubah menjadi Baperki, & anggotanya bukan hanya masyarakat Tionghoa.

Mewawancarai Presiden Soekarno

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Sumber gambar, Davies Surya

Sejak kecil, Hwie dengan suka membaca dan selalu ingin tahu, bercita-cita menjelma wartawan. “Saya ingin oleh karena itu wartawan karena wartawan itu harus belajar dan tahu semua hal. Itu memang cita-cita saya, ” sebutan Hwie.

Pada 1962, tempat diterima bekerja di koran Trompet Masjarakat di Sial. Ini adalah koran dengan didirikan oleh warga keturunan Tionghoa, Goei Poo Aan, pada 1947.

Kunci ‘Seabad pers kebangsaan 1907-2007’ mencatat bahwa Trompet Masjarakat adalah harian dengan berita “sepedas cabe rawit” yang setia berada di belang rakyat kecil. Dengan aksi itu, tak hanya seluruhnya Trompet Masjarakat berurusan secara meja hijau.

“Bukan hanya lawan, tapi kawan sendiri pun akan dikritik dengan tajam kalau berlaku tak adil atau merugikan relevansi bangsa, ” kata Hwie.

Pekerjaannya sebagai wartawan juga yang membawanya bertemu secara tokoh-tokoh sejarah masa itu, termasuk presiden pertama Indonesia, Soekarno.

“Tahun 64 tersebut saya dapat tugas dari redaksi untuk meng- interview Bung Karno, ke Jakarta, ” kata Hwie. “Ini sesuai ujian. ”

Hwie, yang saat itu adalah kuli muda, berangkat ke Istana dan berhasil menemui Soekarno di Istana Negara. Tempat sangat terkesan dengan pertemuannya dengan Bung Karno. “Bung Karno punya wibawa besar, ” katanya mengenang.

Ketika bertemu, Soekarno memberinya arloji. “Setelah itu saya ramah, tidak lama, sekitar separuh jam lebih, ” sebutan Hwie dengan bersemangat.

Di dalam beberapa kali pertemuan, Hwie mewawancarai Soekarno tentang bermacam-macam hal, termasuk soal Maklumat Politik. Tulisannya pun dimuat di Trompet Masjarakat.

Tulisan-tulisan dan koran Trompet Masjarakat itu sempat dia kumpulkan. “Sayang sebagian tumbuh koleksi Trompet Masjarakat hamba sudah dibakar, ” sebutan dia.

Dituduh PKI

Pagi hari tanggal 1 Oktober, Hwie pertama kali mengindahkan tentang pembunuhan para jenderal yang terjadi di Jakarta. Dia belum tahu perkara itu akan mengubah hidupnya.

“Katanya ada pembunuhan, tersebut saya pertama dengar, aku belum tahu apa-apa, saya masih muda. Saya tidak tahu apa dampaknya pembunuhan besar itu, ” sirih Hwie.

Kurang sejak sebulan kemudian, Hwie biar ditahan. “Tuduhan pertama, karena saya PKI. Padahal tak, saya bukan anggota PKI, ” kata Hwie.

Tetapi dia sadar bahwa pergerakannya di Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) adalah lupa satu penyebab dia ditangkap.

“Baperki dianggap underbouw (afiliasi) PKI, padahal tidak, lain. Akibatnya banyak orang Baperki ditangkap dan banyak yang ditahan di Buru, ” kata dia.

Selain tersebut, Hwie yakin, pertemuannya dengan Soekarno dan tulisan-tulisannya yang seiring dengan Manifesto Politik, Nasakom dan Bung Karno, adalah salah satu sebab dia ditangkap menyusul kejadian 30 September.

“Karena saya wartawan yang interview Bung Karno, saya dituduh Sukarno-sentris, memihak pada Soekarno, ” kata dia. Media wadah dia bekerja, Trompet Masjarakat, pun dikenal sebagai jalan yang dekat dengan Soekarno.

Goei Poo Aan, kepala umum Trompet Masjarakat, serupa dituding terlibat peristiwa Gerakan 30 September.

Di 9 Oktober 1965, Hwie mencatat, bahwa koran tersebut masih terbit dan “dengan berani malah memuat” pemberitahuan Politbiro CC-PKI yang berjudul “PKI Mendukung Amanat Presiden Soekarno”.

Buku “Seabad pers kebangsaan 1907-2007′ mencatat kalau pada 65 Goei Poo Aan dipenjara di Lowokwaru sebagai tahanan kelas A, kemudian nasibnya tak diketahui lagi.

Harian tersebut pun berhenti terbit untuk selamanya.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Sumber gambar, BBC Indonesia

Dunia Hwie sebagai seorang pemuda 29 tahun yang semula luas, mendadak tertutup.

Setelah tempat ditangkap, koleksi bukunya kendati dijarah dan dibakar.

“Saya ditahan, mulai dari Sebal, di penjara Malang ndak lama, pindah ke Batu, ndak lama dibawa ke Jawa Tengah. Sampai Jawa Tengah nyabrang laut, dibawa ke Nusa Kambangan, ” kata Hwie.

Meski ditahan tanpa pengadilan, selama pengurungan itu Hwie masih berasa beruntung. “Beruntung, saya tak pernah dipukuli, cuma digebrak-gebrak. Padahal yang lain… tidak dipukul lagi, banyak yang dibunuh. ”

Dalam memoarnya, Hwie menceritakan bahwa selama ditahan, dia sering memiliki perlakuan rasis. “Para penyelidik tak segan menghardik serta berlaku keras bila ada tapol menyebut ‘Tionghoa’ serta bukan ‘Cina’, ” katanya.

Di dalam tahanan pula, Hwie diminta mengganti nama Tionghoanya menjadi nama Indonesia, namun dia menolak. Ketika dipaksa, akhirnya dia mengatakan dalam interogatornya, “Terserah Bapak, jika mau ganti, ganti saja”.

Petugas yang menginterogasinya bertanya, ganti nama barang apa? Hwie menjawab, ‘Mergo Dipekso”. Artinya, karena dipaksa.

Namanya tidak jadi diganti. Namun beberapa waktu sesudah percakapan tersebut, Hwie dikirim untuk menjadi tahanan di Pulau Buru.

“Tidak ada rumah, hanya ada gedung gedhek (anyaman bambu). Pulau Kejar masih hutan belukar, ke mana-mana harus jalan kaki karena tidak ada instrumen, ” kata dia.

Dalam Pulau Buru, Hwie ditempatkan di Unit 4, Savanajaya. Tahanan ditugaskan membabat asas dan menanam padi.

Para-para tahanan yang sebagian gembung adalah kaum intelektual, kudu berlelah-lelah secara fisik.

“Harus macul (mencangkul), babat, tandur (menanam), saya tidak pernah bekerja begitu sebelumnya, ” kata Hwie.

Mereka kudu bekerja keras dengan makanan yang terbatas. Sebelum panen lulus, para tapol harus meramban ladang dan hutan, mencari daun yang dapat dimakan. Dia bercerita sering sajian krokot, karena mengandung penuh vitamin C.

“Kalau rencana [soal masa] pada tahanan gini jadi ingat tenan . Ingat semua, ingat teman-teman…, ” kata Hwie yang lalu terdiam beberapa zaman.

“Kami sering lapar. Kalau cerita masa ini… payah. Banyak yang meninggal. Teman-teman masih muda banyak yang…, ” kata Hwie, tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Membantu Pramoedya pada Buru

Di Pulau Buru itulah dia bertemu secara Pramoedya Ananta Toer, sastrawan penulis buku Tetralogi Buru.

Saat itu, Hwie telah mengenal sosok Pramoedya karena sering datang meliput ceramah-ceramah yang diadakan oleh Pram. “Waktu itu belum depan, baru di tahanan itu menjadi dekat sekali. ”

Dalam kesulitan, Pram memberinya semangat. “Pram bilang, ‘Hwie, jangan mikir abu ibu, apalagi mikir teman-teman, jangan. Kalau punya pacar, jangan mikir pacar, ‘ Saya jawab, ‘Saya tak punya pacar pak’, ” kata Hwie sambil tertawa.

“Pram bilang, ‘Sekarang yang penting belajar, anggap saya dosen, you siswanya, ‘ kata Hwie.

Satu diantara materi ‘kuliah’ Pramoedya tersebut menjadi cikal bahan Tetralogi Buru.

“Sampai cerita tulisannya Pram, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Alur Langkah, Rumah Kaca. Tersebut awalnya cerita, ” logat dia dengan bersemangat.

Hwie yang saat ini berusia 85 tahun cakap dengan suara pelan & perlahan. Namun ketika mendongengkan tentang Soekarno dan Pram, suaranya menjadi penuh gelora.

Saat itu, Pramoedya yang semula dilarang merekam, sudah diizinkan untuk menyusun lagi di bawah penjagaan dan sensor yang benar ketat.

Namun, kata Hwie, para tahanan politik sejenis menghargai arti penting karya-karya Pram. Dia menceritakan bagaimana dirinya, dan tahanan asing, bahu membahu membantu Pramoedya menulis.

“Pram diisolasi di gubuk gedhek , sekitar satu kilo jauhnya dari tapol lainnya. Dia diawasi dengan lebih ketat dan tidak boleh bertemu orang lain, ” kata dia.

Isolasi ini membuat Pram tidak dapat bertukar budi dengan tahanan lain untuk mendapatkan referensi untuk tulisannya.

Hwie bertugas menjelma pembawa pesan, untuk minta masukan kepada tapol asing soal hal-hal yang sedang ditulis Pram. “Dinding gedheknya berlubang, saya intip, kalau yang jaga pergi saya masuk, sembunyi-sembunyi”.

Ketika Pram perlu masukan soal kurang fakta sejarah, misalnya, Hwie menanyakan fakta tersebut ke Profesor Saleh Iskandar dalam Unit V dan para ahli lain di dunia masing-masing. Fakta dan fakta itu kemudian ditulisnya untuk diserahkan para Pram.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Sumber gambar, Dokumen pribadi

“Saya bisa ketemu Pram, menyampaikan pesan dan dapat banyak penjelasan dari Pram, ” katanya.

Masa Pram menulis buku “Perawan Remaja di Sarang Penyamun”, para tapol lain mencari jalan melakukan penyelidikan dengan mengarah para bekas jugun ianfu di Pulau Buru. Hasilnya dilaporkan pada Pram.

Dia sadar risiko mengunjungi Pram yang disebutnya “tahanan kelas besar” secara sembunyi-sembunyi.

“Kalau ketahuan ya mampu digepukin, ” katanya serupa tertawa mengenang kejadian lebih dari 40 tahun cerai-berai itu. “Tapi karena semangatnya, tidak pernah saya merasakan takut. Biar diburu, tercampak saja. Tapi untung tak ketahuan. ”

Ketika Pramoedya membutuhkan lebih banyak kertas untuk menulis, Hwie pula yang bertugas mencarikan kertas. Dia mengambil kertas-kertas emas biru sisa pembangunan, lalu menyapu dan memotongnya seukuran folio.

Jika Pram membutuhkan pensil dan pena, para tapol bekerjasama sembunyi-sembunyi memindahkan telur-telur ayam hutan dengan alat tulis di Namlea, kota terbesar di pulau itu. “Ya sebisa-bisanya, ” kata Hwie.

Tugas Hwie yang lain terjadi ketika datang kabar bahwa tempat akan dibebaskan.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Sumber tulisan, Davies Surya

“Pak Pram ngomong dengan saya. “Hwie, kalau bebas saya titip ya, kamu berani? ” “Berani. Titip apa? ” kata saya, ” demikian Hwie mengulang percakapannya secara Pram.

Pramoedya menitipkan beberapa naskah tulisannya untuk dibawa ke luar Tanah Buru. Salah satunya merupakan Bumi Manusia dan Ensiklopedi Citrawi Indonesia, dalam bentuk naskah asli tulisan tangan, dan ada juga salinan yang diketik.

Agar tidak ketahuan, naskah Pram tempat sembunyikan dalam gulungan baju kotor, lalu dimasukkan ke dalam besek.

Tempat mengingat jantungnya berdegup kencang ketika melewati pemeriksaan.

“Untungnya ada tentara yang cara, saya tidak digeledah, meskipun teman-teman saya digeledah, diperiksa. Coba digeledah, besek tersebut bisa dirampas, dan mungkin saya dibui, dicemplung ke laut, habis. Ndak bisa apa-apa, ” kata Hwie.

Naskah itu dibawanya pulang dengan selamat. Setahun kemudian ketika Pram khali, dia ingin mengembalikan naskah-naskah itu.

“Kata Pram, ‘Tolong fotokopikan, kasih ke saya fotokopinya. Yang asli kamu simpan, jadi kalau dirampas, yang dirampas fotokopinya’. Berantakan saya simpan naskah-naskah itu secara rahasia, ” sekapur Hwie.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Sumber gambar, Davies Surya

Menanti keadilan untuk korban 1965

Membawa besek berisi naskah selundupan dan tas plastik, Oei Hiem Hwie, yang ditangkap masa berusia 29 tahun, terakhir dibebaskan sebagai seorang adam berusia 43 tahun.

Tanpa pernah diadili, 13 tahun usia produktifnya dihabiskan dari penjara ke penjara.

Setibanya di panti, berbagai diskriminasi menantinya.

“Saya tidak bisa apa-apa, mana bisa, karena KTP ET. Tidak bisa kegiatan, ” katanya. Kode ET, atau Eks Tapol, dicantumkan pada KTP para bekas tahanan politik.

Kode itu menjadi penanda untuk orang-orang yang kemudian akan diperlakukan secara diskriminatif sepanjang Orde Baru.

Sebagai mantan wartawan, Hwie menjelaskan kalau kode ini membuatnya tak dapat mengirim tulisan ke media. Ingin memulai cara, mendapat pinjaman bank biar tak mungkin. “Di vila saja pun saya kala diperiksa, ” kata dia.

“Setelah [presidennya] ganti Habibie, baru hamba bisa bicara, ” sekapur Hwie.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Kalau naskah Pramoedya ada padanya pun dia rahasiakan semasa bertahun-tahun. “Dulu tidak ada yang tahu, ini (menunjuk mulut) tutup, ” katanya.

Pada tahun 2011, Hwie mengadu kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan meminta rehabilitasi dan pengembalian haknya atas tuduhan yang ditimpakan kepadanya pada tahun 1965, dan penahanan minus peradilan selama 13 tarikh. Hwie juga mengadukan diskriminasi yang dia terima sebab label Ex Tapol dalam KTP-nya.

Namun hingga saat ini, rehabilitasi dan pengembalian sah yang dia harapkan tidak kunjung tercapai.

Hwie mengaku masih berharap akan pengerjaan kasus 65. Tapi bagaimanapun, dia pesimis.

“Kalau presidennya mau, ya bisa, akan tetapi harus melalui suatu keberanian pemimpin, baru bisa, ” katanya.

Pasalnya, dia menjelaskan, kejadiannya sudah sungguh-sungguh lama dan para bukti yang penting sudah banyak yang meninggal. “Ada yang tidak berani cerita, ada yang berani tapi tidak bisa. ”

Meski begitu, dia merasa perlu buat bersuara dan menceritakan dongeng hidupnya sebagai bagian dari sejarah kelam Indonesia. Maksudnya menceritakan kisahnya sebagai tangsi politik adalah karena tempat ingin anak muda cakap.

“Kalau saya nggak cerita, anak muda tak tahu. Tapi konsekuensinya, saya dianggap orang menyebar aliran tertentu. Padahal bukan, kami apa adanya, ” katanya.

Perpustakaan Medayu Agung

Sesudah bebas dari penjara, Hwie kembali menekuni hobinya membaca dan membuat kliping.

Bermaslahat, beberapa koleksi bukunya sedang ada yang selamat dibanding pembakaran, karena sempat disembunyikan di atas plafon vila.

Meski bebas, ruang geraknya terasa terbatas karena dia merasa terus dimata-matai, apalagi di tingkat RT dan RW.

“Lalu datang seorang Tionghoa, namanya Haji Masagung yang punya Gunung Besar. Dia bilang, ‘Hwie, kamu kalau di Malang langsung nggak bisa maju, sini saya bantu, ‘ oleh karena itu saya pindah ke Surabaya, ” kata Hwie.

Dia lalu bekerja di kongsi Haji Masagung hingga purna bakti dan memutuskan untuk menghasilkan perpustakaan umum di Surabaya, bernama Perpustakaan Medayu Gede.

Perpustakaan ini dibuka buat umum, dan berisi berbagai macam buku, puluhan ribu eksemplar koleksi koran, & beberapa memorabilia. Hwie pernah mendapatkan penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai “kolektor tulisan kabar terlengkap sejak mula terbit”.

1965, korban, tapol, tahanan politik, tragedi 1965, dituduh PKI, buru, pulau buru

Di taman bacaan ini pula dia mengemasi naskah-naskah Pramoedya yang tahu dia selundupkan keluar Pulau Buru.

“Bahan-bahan itu ada orang luar kampung yang mau beli, 1 miliar, tapi enggak kami jual. Saya tolak, perlu sejarah Indonesia, ini bakal tentang Indonesia, ” sekapur dia.

Hwie khawatir jika buku-buku tersebut dia jual, orang Indonesia akan kesulitan belajar tentang daerah mereka sendiri.

Saat ini, Hwie masih membuat kliping. Setiap pagi pula tempat tetap menjaga perpustakaannya, kadang-kadang membersihkannya sendiri.

Taman bacaan Medayu Agung, adalah harapannya.

“Agar generasi muda tahu. Kalau generasi bujang nggak tahu, nggak ada gunanya. Orang bisa tewas tapi harus punya pengorbanan, ini peninggalan saya, ” kata Hwie.