• Mohamad Susilo
  • BBC News Indonesia

Sumber gambar, PBSI

Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra Nusantara, sudah menyiapkan semuanya. Dia merancang program dengan haluan utama anak-anak asuhnya memiliki performa puncak saat berlomba di Olimpiade Tokyo.

Program ini mencakup latihan khusus dan mengirim pemain di turnamen universal secara selektif, dengan tumpuan mendongkrak peluang menyabet medali.

Namun rancangan program tersebut buyar gara-gara pandemi ijmal Covid-19.

Praktis, sesudah ajang All England 2020 di Birmingham, Inggris, dekat semua turnamen besar dibatalkan.

“Bisa disebutkan sekarang semua kekuatan pemain menjadi kosong-kosong lagi, ” kata Herry memberi peribahasa atas situasi kekuatan para-para pemain elite di zaman pandemi. “Kita tak terang kekuatan lawan yang nyata, ” imbuhnya.

Ia mengatakan para pemain China — salah satu pesaing depan tim bulutangkis Indonesia — sudah tidak terjun di turnamen besar selama utama setengah tahun terakhir.

Menjabarkan lawan adalah salah kepala upaya penting dalam memenangkan pertandingan. Namun itu sekarang tak bisa dilakukan.

Di luar itu, ada tahanan lain dengan begitu minimnya turnamen internasional dalam 1, 5 tahun ini, yakni bagaimana merasakan kembali ” feeling bertanding di lapangan”.

Baca juga :

Sumber gambar, PBSI

Di tengah sejumlah kendala ini, Pengelola Pusat Persatuan Bulutangkis Semesta Indonesia (PBSI) memutuskan untuk terbang ke Jepang lebih awal dan menggelar latihan khusus di Kumamoto semasa sekitar 10 hari sebelum masuk ke Perkampungan Atlet di Tokyo.

Pemeran tunggal putra Anthony Ginting dan pemain ganda campuran Melati Daeva Oktavianti mengatakan latihan di Kumamoto menjelma ajang untuk membenahi persiapan terakhir dan aspek-aspek nonteknis.

“Ini kan Olimpiade mula-mula bagi saya, jadi di sana (Kumamoto) ada ancang-ancang akhir untuk hal-hal nonteknis, ” kata Melati.

Praveen/Melati tingkatkan kekompakan

Melati serta pasangannya di ganda larutan, Praveen Jordan, menjadi salah satu tumpuan harapan bintang.

Praveen/Melati mencatat prestasi mengesankan di seri Eropa sebelum secara cemerlang menjuarai All England 2020.

Keduanya mengutarakan secara teknis, persiapan terjun di Olimpiade Tokyo sudah rampung dan sejak kira-kira Mei, memfokuskan pada intensifikasi komunikasi di lapangan, dengan digambarkan Praveen sebagai “meningkatkan chemistry “.

“Kalau soal latihan [fisik] tetap pelatih sudah tahu, jika dari kami sendiri [yang kami lakukan adalah] menjaga semangat, jaga kondisi [fisik], jaga kekompakan dan chemistry , ” kata Praveen dalam rencana bincang-bincang dengan mantan pemain ganda campuran Liliyana Natsir.

Peraih medali emas Olimpiade cabang olah raga Jatuh Tangkis

Pemain tunggal putra Alan Budikusuma menyumbangkan medali emas Olimpiade untuk Indonesia untuk prima kalinya setelah mengalahkan konco setimnya, Ardy B. Wiranata pada 1992 silam di Barcelona, Spanyol.

Sementara pemeran tunggal putri Susi Susanti mengalahkan delegasi Korea Daksina Bang Soo-hyun lewat tiga gim dengan skor 5-11, 11-5, 11-3 pada medan yang sama.

Pemain ganda putra Rexy Mainaky dan Ricky Subagja merayakan kemenangan setelah menebas habis lawannya, pasangan lantaran Malaysian Cheah Soon Kit/Yap Kim Hock (Malaysia), dengan skor 5-15, 15-13, 15-12 pada Olimpiade 1996 pada Atlanta, Amerika Serikat.

Pemain ganda anak Candra Wijaya dan Tony Gunawan menaiki podium kampiun Olimpiade di Sydney, Australia setelah menaklukkan pemain Korea Selatan Lee Dong-soo/Yoo Yong-sung melalui pertandingan tiga tata dengan skor 15-10, 9-15, dan 15-7. Keduanya menjelma satu-satunya penyumbang medali emas untuk Indonesia pada gelaran olah raga bergengsi dunia pada tahun tersebut.

Atlet Taufik Hidayat mengalahkan pemain tunggal putra asal Korea Selatan Shon Seung-Mo dalam dua gim, 15-8 dan 15-7 pada Olimpiade 2004 di Athena, Yunani.

Tahu kalah di gim perdana, pasangan ganda putra Hendra Setiawan dan Markis Kido akhirnya melawan balik secara skor 12-21, 21-11, dan 21-16. Keduanya menyumbangkan medali emas untuk Indonesia setelah mengalahkan pasangan China Cai Yun dan Fu Haifeng pada Olimpiade 2008 di Beijing, China.

Pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad and Liliyana Natsir merayakan kemenangannya pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil, yang jeblok bersamaan dengan Hari Kebebasan Indonesia. Keduanya menyumbangkan bintang emas untuk tim Abang Putih setelah membabat berakhir lawannya asal Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Pada wawancara dengan BBC News Indonesia, Praveen mengatakan dia dan Melati bisa meneruskan prestasi seniornya, pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, yang mengambil medali emas di Olimpiade 2016.

“Itu memotivasi kami dan Melati [untuk meraih emas di Tokyo]#@@#@!!… soal lawan, kita sudah mengantipasipasi. Yang terberat sepertinya dari pemain-pemain China, ” kata Praveen.

Jordan/Melati berada di Perkumpulan C bersama Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang), Mathias Christiansen/Alexandra Boje (Denmark), dan Simon Wing Hang Leung/Gronya Somerville (Australia).

Dua posisi terbaik di setiap grup hendak melangkah ke babak delapan besar. “Melihat drawing cukup baik, head to head kita tidak kalah tapi ini Olimpiade. Jadi siapa pun lawannya tidak dapat lengah, ” kata Melati, dalam rilis yang dikeluarkan PBSI.

“Satu langkah demi satu langkah saja dulu. Semua lawan harus diwaspadai, tidak boleh fokus ke salah satu, ” logat Melati.

Sumber gambar, PBSI

Baca juga :

Pelatih ganda campuran, Nova Widianto, mengatakan sekarang yang menjadi perhatian adalah ciri mental.

“Kondisi Praveen/Melati sejauh ini sudah sangat elok. Latihannya sudah banyak ke teknik, latihan fisiknya sudah dikurangi. Tinggal menyiapkan & menguatkan mental saja. Yang terpenting sekarang mentalnya kudu siap, ” kata Nova kepada Tim Humas dan Media PP PBSI.

“Karena Olimpiade selama ini jika saya lihat, kadang-kadang karakter yang ada di peak performance -nya belum tentu dengan mental. Kalau saya lihat ke belakang, Owi/Butet tersebut performa terbaiknya di 2012 tapi emasnya di 2016. Kenapa? Karena mereka dengan permainan 2012 itu sudah bagus tapi secara moral belum siap, ” kata pendahuluan Nova menganalisis.

Kevin/Marcus tak mau gegabah

Tumpuan bintang emas juga ada di pundak dua pasangan berpasangan putra, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan.

Keduanya masing-masing berada di peringkat utama dan dua dunia, yang di atas kertas setidaknya memperlihatkan, keduanya punya peluang besar meraih emas.

Sumber gambar, PBSI

Namun, kondisi ini juga bisa menjelma kendala, sesuatu yang disadari oleh pelatih ganda anak, Herry IP.

Itulah sebabnya Herry sudah merancang apa yang ia sebut “catatan-catatan khusus”.

“Yang tak kalah penting adalah mengatur suasana hati pemain. Di setiap pemain tidak sama, itu punya karakter masing-masing. Hamba harus bisa menjaga motivasi, menjaga mental, agar bahan bisa dicapai, ” introduksi Herry.

Catatan khusus ini ia susun setelah berulang kali mendampingi pemain di ajang penting seperti Pertarungan Dunia dan All England.

Kevin/Marcus yang menempati unggulan pertama berada di Perkumpulan A bersama Lee Yang/Wang Chi-Lin (China Taipei), Ben Lane/Sean Vendy (Inggris), dan Chirag Shetty/Satwiksairaj Rankireddy (India).

Hendra/Ahsan — yang diunggulkan di tempat kedua — menempati Grup D bersama Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia), Choi Sol Gyu/Seo Seung Jae (Korea Selatan), dan Jason Anthony Ho-Shue/Nyl Yakura (Kanada).

Menghakimi undian, pelatih ganda anak Herry IP mengatakan, “Harus siap karena undian kita tidak bisa memilih, apa pun hasilnya ya kudu dihadapi, ” kata Herry.

“Di grup bakal tersedia tiga pasangan yang akan dilawan dengan plus-minus per. Jadi berat atau kecil menurut saya tergantung anju dan kesiapan atlet itu sendiri, ” lanjutnya. Menurut Herry, saat ini pelik menentukan kekuatan lawan karena sudah lama sekali tidak ada pertandingan.

“Untuk desain, baru jelang harinya kita akan diskusi. Kita kan ada lihat video-video rekaman pertandingan sebelumnya, ” ucap Herry. Senada dengan Herry, Marcus juga mengomentari undian dengan nada yang tidak terlalu gentar.

“Ya namanya Olimpiade, kita sudah tidak bisa pilih-pilih lawan. Seluruh merata kekuatannya, bakal penuh lah, ” ujar Marcus. Sebelumnya, Kevin mengatakan dirinya tak ingin gegabah biar saat ini berada pada peringkat satu dunia.

“Kualitas pemain [ganda putra] sekarang jauh lebih merembet. Semuanya punya kans yang sama untuk juara, ” kata Kevin.

Kans emas kedua bagi Hendra

Sumber gambar, BWF

Bagi Hendra, ini menjadi kans kedua untuk kembali meraih emas, setelah emas pertamanya di Olimpiade 2008 di Beijing bersama Markis Kido.

Di Olimpiade 2016 di Rio, Hendra/Ahsan gagal lolos dari fase grup.

Kali ini di Tokyo, Ahsan mengatakan ingin memajukan fokus di lapangan. “Setiap kemenangan, setiap poin hendak sangat berarti. Semua lawan merata. Jadi bisa saja faktor penentunya nanti hitungan poin, ” kata Ahsan.

Hendra, sementara itu mengucapkan, “Kita mau lebih fokus, step by step , satu perlombaan ke pertandingan lain. Main lebih berani dan bertambah yakin lagi. ”

Banyak yang menempatkan Hendra/Ahsan sebagai kuda hitam. Kala usia tak lagi muda, pasangan ini masih mampu menjuarai All England dalam 2019.

Bagi Kevin/Marcus, akik sandungan bisa datang dibanding pasangan Jepang, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe.

Endo/Watanabe sukses menghadang Kevin Marcus di final All England 2020. Di All England 2021, duo Jepang ini juga keluar sebagai juara.

Wartawan gerak Reza Adi Surya mengucapkan pelatih ganda putra Herry IP tentu sudah menyiapkan strategi khusus jika Endo/Watanabe bertemu Kevin/Marcus.

“Dalam kira-kira kesempatan, pasangan Jepang itu memang selalu bisa menundukkan Kevin/Marcus. Tapi bicara jalan di Tokyo, saya memperkirakan 60: 40 untuk Kevin/Marcus, ” kata Reza.

Selain Praveen/Melati, Kevin/Marcus, dan Hendra/Ahsan, Indonesia juga menerjunkan tunggal putra Anthony Ginting, Jonathan Christie, tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung, dan berpasangan putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu.

Sumber gambar, PBSI

Ginting mengatakan dirinya sudah ngerasa siap terjun di Olimpiade Tokyo.

“Sudah periode persiapannya, sejak All England 2021. Jadi, so far sudah siap, jaga pokok, tinggal simulasi feeling , untuk membawa perasaan ke pertandingan, ” kata Ginting.

Ia mengatakan dirinya banyak mempelajari lawan melalui video-video pertandingan, baik yang dikumpulkan sendiri maupun yang disiapkan tim PBSI.

Kan lama tak ada pertandingan, jadi kami tidak tahu kekuatan lawan, [karenanya] video-video periode penting, ” kata Ginting.

Latihan, baik teknis dan nonteknis, sudah dimaksimalkan, serta seperti kata peraih aurum Olimpiade 2000 Candra Wijaya, semuanya sekarang bergantung dalam penampilan di lapangan.

“Yang penting bermain tenang, tanpa terburu-buru, dilewati satu perlu satu, ” kata Candra.

Melihat latihan di Pelatnas Cipayung maupun di Kumamoto, terasa adanya tekad dengan kuat untuk meraih emas.

“Kami akan habis-habiskan membela tradisi medali emas, ” kata Rionny Mainaky, kepala bidang pembinaan dan prestasi PBSI.