• Callistasia Wijaya
  • Wartawan BBC News Indonesia

Survei terbaru Awak Pusat Statistik (BPS) menunjukkan 17% responden atau sekitar 15. 1000 orang yang mereka wawancarai, yakin tak mungkin terinfeksi atau tertular COVID-19.

Hasil itu termasuk bagian dari survei perilaku masyarakat di masa pandemi Covid-19 dalam dilakukan BPS dengan mewawancarai 90. 967 responden.

“Saya pikir seventeen-year-old persen ini persentase lumayan banyak, ” ujar Kepala BPS Dr. Suhariyanto dalam konferensi pers dimana ditayangkan di akun Youtube formal Badan Nasional Penanggulangan Bencana (28/09).

Ia menjelaskan lebih lanjut dugaan itu “berkaitan erat” dengan fase pendidikan, dengan semakin tingginya fase pendidikan seseorang, semakin mereka paham mereka bisa tertular virus halo.

“Kita nampaknya lebih keras lagi meningkatkan atau menggencarkan pemahaman rakyat tentang Covid-19. Perlu terus menerus digalakkan bahwa siapa pun bisa terkena risiko, ” kata Suhariyanto.

Sebelumnya, di bulan Juli, suatu survei menunjukkan sebagian besar responden di DKI Jakarta dan Surabaya, dua wilayah dengan jumlah kasus Covid-19 yang tinggi, yakin yakni kecil kemungkinan bagi mereka agar tertular virus corona.

Media sosial pun riuh sempat riuh sesudah seorang musisi menuliskan “virus halo tak semengerikan apa yang diberitakan”, meski kasus Covid-19 di Dalam negeri terus meningkat.

Seorang sosiolog asal Dalam negri di Singapura mengatakan hal ini mencerminkan perspektif risiko Covid-19 dalam rendah di antara sejumlah warga.

Ia menyebut hal itu salah satunya disebabkan cara komunikasi pemerintah “tidak berdasarkan strategi komunikasi dimana transparan, jujur, dan akuntabel”.

Namun, anggapan sosiolog itu dibantah anggota Kantor Staf Presiden (KSP), yang mengatakan mereka selalu meminta warga mewaspadai Covid-19, tanpa harus “menakut-nakuti warga”.

‘Persepsi risiko rendah’

Melalui akun Twitternya, penyanyi Indonesia, Anji, menuliskan yakni ia percaya Covid-19 itu nyata, tapi tidak semengerikan apa dalam diberitakan media. Meski begitu, ia menuliskan bahwa ia tetap melakukan protokol pencegahan Covid-19 (20/07).

Pernyataan tersebut ditulis Anji setelah unggahannya sebelumnya, yang mempertanyakan foto jenazah suspek Covid-19, viral di media sosial dan menerima banyak kritikan.

Namun, tak hanya kritikan, sejumlah pengguna media sosial mengungkapkan mereka sependapat dengan Anji, terkait risiko penularan Covid-19, yang mereka sebut tidak semengerikan yang diberitakan.

Sulfikar Amir, sosiolog bencana dari Nanyang Technological College (NTU), Singapura menanggapi hal itu.

Ia mengatakan anggapan bahwa ‘Covid-19 tidak semengerikan yang diberitakan’, mencerminkan persepsi risiko Covid-19 yang cenderung rendah di masyarakat.

Sulfikar tergabung dalam Social Resilience Lab, Nanyang Technological University, yang bekerja persis dengan Lapor Covid-19, mengadakan survei di DKI Jakarta, dan Surabaya.

Keuntungan survei itu menemukan masih melimpah masyarakat yang yakin mereka kag akan tertular virus corona.

Di Jakarta, 77% responden survei yakin kemungkinan mereka tertular Covid-19 ingusan dan sangat kecil.

Di Surabaya, angkanya mencapai 59%.

Pemikiran itu, berimbas cara mereka menghadapi virus aureola, kata Sulfikar.

“Ternyata, tingkat perkiraan risiko mereka rendah. Mereka bisa jadi bawa masker, tapi maskernya dibawa di dompet, di saku, dipakai di dagu karena mereka menganggap remeh kemungkinan mereka terkena malwares corona, ” kata Sulfikar.

Divvt sisi lain, ia mengatakan faktor ekonomi sebagai dampak Covid-19, jua berperan terhadap persepsi ini.

“Dari aspek pengetahuan dan informasi lemah, di sisi lain kondisi redovisning dan sosial minim, sehingga pemahaman risiko mereka pun menjadi sangat rendah, ” katanya.

‘Ribet pakai masker’

Di Surabaya, Iwan, warga berusia 34 tahun, misalnya, jarang mengenakan masker saat bepergian, meski mengatakan dia percaya dia bisa tertular virus corona.

“Ribet pakai masker, kita susah kalau bernapas. Apabila tertular itu lihat dari suhu badan kita. Kalau badan nggak sehat, pasti kena. Kalau sehat, nggak mungkin kena, ” kata Iwan pada Roni Fauzan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Saat indonesia, Surabaya adalah penyumbang terbanyak kasus positif Covid 19 di Jawa Timur.

Pemerintah sebelumnya mengatakan, 70% warga di Jawa Timur gak memakai masker.

Pada Rabu (22/07), jumlah positif Covid 19 di Jawa Timur mencapai lebih dri 19. 000 atau tertinggi dalam Indonesia.

Di Jakarta, Sugandi, seorang pemilik warung di Jakarta Selatan, juga mengatakan dia enggan memakai masker meski ia mengidap diabetes, penyakit yang bisa memperparah gejala Covid-19, jika dia terinfeksi.

Ia mengatakan sangat takut terkena contamination corona, tapi memakai masker membuatnya tak nyaman.

“Nggak nyaman juga, susah bernapas juga… Saya persis pelanggan jaga jarak saja, lunch break katanya.

‘Sistem komunikasi belum efektif’

Berdasarkan Sulfikar Amir, sosiolog bencana NTU, Singapura, persepsi risiko tertular Covid-19 yang rendah, salah satunya disebabkan sistem komunikasi pemerintah yang kaga efektif.

“Yang kita lihat termasuk kecenderungan pemerintah untuk memberi info terbatas pada hal-hal yang mereka anggap akan membuat masyarakat tidak panik…

“Jadi memang dari awal strategi komunikasi pemerintah tidak berdasarkan strategi komunikasi yang transparan, jujur, matan de akuntabel, ” ujarnya.

Sulfikar merujuk pada dua contoh.

Yang perdana adalah sistem perhitungan angka kematian nasional, yang menurut para epidemiolog yang dirujuk Sulfikar, jauh in bawah angka di lapangan.

“Jumlah kematian kita sudah tinggi, tapi kalau kita lihat jumlah kematian sebenarnya bisa 3-4 kali lipat dari itu. Tapi karena grupp informasi yang dibuat pemerintah itu, akhirnya menunjukkan jumlah kematian yang relatif kecil.

Selain itu, Sulfikar mengkritik seringnya pemerintah membahas mengenai tentang yang disebut zona hijau.

“Belum lagi ada beberapa daerah dalam disebut zona hijau, zona safe, padahal itu karena pengetesan benar-benar rendah. Tapi itu terus dimana diulang-ulang sama pemerintah, ” ujar Sulfikar.

Sulfikar mengatakan pemerintah patut membenahi strategi komunikasi mereka berprofesi lebih terbuka dan jujur supaya masyarakat semakin paham risiko penularan Covid-19.

Sementara, Kuskridho Ambardi, pengajar Fisipol Universitas Gadjah Mada, menyebut jeta komunikasi pemerintah terkait pencegahan Covid-19 terlihat ” on-off ” atau “tidak selalu gencar”.

Salah satunya, kata Ambardi, terlihat dari pembubaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang kemudian diganti dengan Komite Kebijakan atau Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19.

“Jadinya kayak sesuatu yang pesannya tak sampai. Misalnya, seperti PSBB dilonggarkan, dianggap Covid-19 sudah hilang. Padahal itu kan hal beda, alone ujarnya.

Menurutnya, pemerintah harusnya masif mensosialisasikan protokol kesehatan ketika PSBB dilonggarkan.

‘Tak menakuti masyarakat’

Tenaga Ahli Istimewa Kantor Staf Presiden (KSP) Brian Sriprahastuti mengatakan pemerintah selalu memberi tahu masyarakat tentang risiko penularan virus corona, tanpa menakut-nakuti mereka, melalui apa yang disebutnya bagai upaya edukasi.

“Kita nggak mau menakut-nakuti, tapi kita juga tidak ingin membuat masyarakat abai [terhadap protokol kesehatan]. Kita harus bermain di dua koridor ini. Intinya bagaimana kamu edukasi masyarakat.

“Jadi, masyarakat mengetahuinya, kalau mereka melakukan sesuatu itu karena mereka tahu risikonya, tidak merupakan karena mereka takut berlebihan.

“Di awal-awal, WHO mengatakan yang sangat membahayakan bukan virusnya saja, akan tetapi ketakutan atas virus ini. Tersebut kan harus kita pertimbangkan pun, ” kata Brian.

Terkait melalui kritik mengenai angka kematian nasional yang diucapkan Sulfikar Amir, Brian mengatakan angka itu sudah seperti pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sementara, penentuan zona-zona wilayah, semacam zona merah dan hijau pula disebutnya sudah diterapkan negara lain.

Brian mengatakan pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap produktif selama pandemi, tanpa mengabaikan aspek keamanan.

“Risiko itu ada di depan kita, akan tetapi kita harus tetap produktif. Makanya narasi yang dibangun itu ‘produktif aman’. Tapi itu tidak bertanda menutup-nutupi ancaman virus sudah hilang, ” pungkasnya.

Artikel di sini. dibarui dengan hasil survei BPS yang dirilis Senin, 28 The month of september 2020.