Sumber tulisan, JAWATAN PERS SEKRETARIAT PRESIDEN

Keputusan pemerintah Indonesia melonggarkan PPKM level 4 di tengah tingkat transmisi virus corona yang sedang tinggi adalah pilihan yang sangat buruk, kata seorang epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada, Donie Riris Andono.

Sebab kejadian itu akan membuat peristiwa infeksi melonjak lebih tinggi lagi sehingga dikhawatirkan penggandaan kapasitas tempat tidur pembelaan maupun tenaga kesehatan, tidak lagi cukup mampu menegah derasnya angka kesakitan akibat varian baru Covid-19 dengan mudah menular.

Namun demikian Presiden Joko Widodo mengatakan keputusan itu diambil “dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, ekonomi, dan dinamika baik yang harus dihitung dengan cermat karena pemenuhan kesibukan sehari-hari masyarakat juga kudu diprioritaskan. ”

Presiden Joko Widodo memutuskan untuk melanjutkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Asosiasi (PPKM) Level 4 had pekan mendatang, namun secara “penyesuaian” yang membolehkan distributor kaki lima, toko kelontong, hingga usaha-usaha kecil serupa buka dengan jam yang ditetapkan.

Pelonggaran ini, kata Jokowi, dilandaskan pada “tren pembaruan dalam pengendalian pandemi Covid-19”. Yakni terjadi “penurunan dalam kasus positif, ketersediaan tempat tidur, dan tingkat penularan atau positivity rate pada beberapa provinsi di Pulau Jawa. ”

“Tapi kita harus tetap berhati-hati menyikapi ini, tetap harus mewaspadai varian Delta yang bertambah cepat menular. Dengan petunjuk aspek kesehatan, ekonomi & dinamika sosial, saya memutuskan melanjutkan PPKM Level 4 dari 26 Juli datang 2 Agustus 2021, ” tutur Presiden Joko Widodo dalam konferensi Pers dengan virtual melalui YouTube Tata usaha Presiden, Minggu (25/07).

Jokowi kemudian memaparkan “aturan habituasi PPKM Level 4” yang isinya berbeda dari yang tertera dalam Instruksi Gajah Dalam Negeri (Inmendagri) Cetakan 22 Tahun 2021.

Sumber gambar, ANTARA

Penyesuaian itu antara lain mencakup kegiatan makan atau minum ditempat umum seperti lepau makan, rumah makan, kafe, pedagang kaki lima, lapak jajanan di ruang terkuak diizinkan buka dengan protokol kesehatan yang ketat datang pukul 20. 00 WIB dengan kapasitas maksimum masa makan 20 menit.

“Kemudian pedagang kaki lima, toko kelontong, pangkas bulu, pedagang asongan, bengkel mungil, laundry, cucian kendaraan serta usaha-usaha kecil sejenis diizinkan buka dengan protokol kesehatan tubuh yang ketat hingga pukul 21. 00 WIB dengan pengaturan teknisnya oleh diatur pemerintah daerah. ”

Penyesuaian lainnya adalah pasar kaum yang menjual selain keinginan sembako juga diperbolehkan bekerja dengan kapasitas maksimum 50% hingga jam 15. 00 WIB.

“Sedangkan pasar rakyat yang menjual sembako boleh buka seperti berpunya dengan protokol kesehatan yang ketat. ”

Epidemiolog: keputusan pelonggaran kebijakan benar buruk

Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada, Donie Riris Andono, menilai pelaksanaan PPKM Darurat yang telah berlaku selama 23 hari, “jauh dari target” yang dipasang pemerintah yakni bisa menyandarkan kasus infeksi kurang daripada 10. 000 per hari.

Gagalnya target tersebut terwujud karena sikap negeri yang ia sebut “setengah hati” saat memberlakukan pengetatan.

Berdasarkan pengamatannya peristiwa tersebut disebabkan angka pengetesan yang relatif tidak menyusun banyak sebelum PPKM Darurat diberlakukan dan mobilitas orang yang masih tinggi.

Pada Minggu (25/07) misalnya ada 38. 679 peristiwa positif baru tapi total spesimen yang diperiksa 124. 139. Jumlah yang diperiksa itu lebih rendah kalau dibandingkan hari sebelumnya yaitu 179. 953 spesimen.

Mengenai positivity rate harian ataupun tingkat penularan berada dalam angka 31, 16%.

Sehingga kata Donie, nilai kasus positif Covid-19 yang dalam beberapa hari final di bawah 50. 000 tidak bisa dikatakan turun.

Sumber gambar, ANTARA

“Ini masih pada periode melandai dan penularan sedang tinggi. Tidak bisa dibilang ini turun, kalau menurun, ya. Kalaupun turun, hendak menjadi turun yang sangat pelan, ” kata Donie Riris Andono kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Minggu (25/07).

“Sekarang penularan masih terjadi, masyarakat sudah ngerasa bahwa PPKM tidak jadi menghentikan penularan. Padahal dengan sebenarnya terjadi, kita tak cukup baik melakukan PPKM dengan benar sehingga penularan tetap terjadi, ” sambungnya.

Donie khawatir jika negeri melonggarkan aktivitas masyarakat maka kasus infeksi akan naik lebih tinggi lagi menetapi varian Delta Covid-19 lebih cepat menular.

Perkiraannya peningkatan angkanya bisa mencapai tiga kali lipat.

Jika hal itu berlaku, langkah pemerintah menambah kapasitas tempat tidur perawatan maupun tenaga kesehatan tidak mau cukup membendung kenaikan urusan.

“Saya mengapresiasi kegiatan keras pemerintah bagaimana berusaha memenuhi pasokan oksigen, obat, ketersediaan tempat tidur. Akan tetapi itu kan sesuatu dengan reaktif sekali.

“Ibaratnya kalau rumah kita murus, kita mencoba menghindari murus dengan menambah ember dalam bentuk pasokan oksigen obat atau tempat tidur. Akan tetapi kita tidak sampai memeriksa menutup atap rumah dengan bocor, ” jelasnya.

“Dalam jangka waktu tertentu secara varian baru Covid-19, kita tidak akan bisa menutup pasokan itu kalau dilonggarkan. ”

Sumber gambar, ANTARA

Seperti apa kondisi RS di Jawa-Bali?

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) mencatat tingkat keterisian tempat tidur di rumah kecil rujukan Covid-19 secara nasional per tanggal 24 Juli 2021 sebesar 69, 29%.

Adapun keterisian wadah tidur untuk ruang ICU atau unit perawatan saksama mencapai 74, 3%.

Sekjen Persi, Lia Gardenia Partakusuma, mengatakan kendati angkanya turun namun harus langgeng berhati-hati lantaran banyaknya pasien kritis dan ancaman moralitas yang masih tinggi.

“Kalau bisa kita tidak hanya melihat data, tetapi serupa mengkaji kondisi riil pada lapangan, ” imbuh Lia kepada BBC News Indonesia.

“Angka kematian masih menyayat hati terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah. ”

Penurunan bed occupancy rate (BOR) terjadi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Banten.