Sumber gambar, Jalaludin

Sebanyak 81 orang etnis Rohingya muncul di Pulau Idaman, Ambang Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Kamis (03/06) malam. Namun, kedatangan mereka baru diketahui warga sekitar pada Jumat (04/06) pukul 07. 00 WIB.

Hal itu dituturkan Kepala Badan Penanggulangan Kesengsaraan Daerah (BPBD) Aceh Timur, Ashadi Asa.

“Sebetulnya telah tiba sejak tadi malam karena kapalnya kandas, tapi warga baru tahu sebetulnya pagi. Sejauh ini kita sudah memberikan bantuan kemanusiaan, ” kata Ashadi kepada wartawan di Aceh, Hidayatullah, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Ashadi melanjutkan, kemungkinan besar 81 karakter Rohingya yang terdiri daripada pria, perempuan, dan anak-anak ini akan didorong kembali ke laut setelah diberikan bantuan makanan dan keinginan lainnya.

Namun pihaknya masih menduduki kepastian rapat Forkopimda (forum koordinasi pimpinan daerah).

“Tujuan mereka sebenarnya ke Malaysia, tapi karena kapalnya batal makanya tiba ke tempat kita. Kemungkinannya akan didorong kembali ke laut sesudah diberikan logistik, tapi kepastiannya kita tunggu hasil kerap, ” kata Ashadi.

Baca juga:

Sumber gambar, Saiful MDA

Sumber gambar, Saiful MDA

Pemberian bantuan tersebut diamini Jalaluddin selaku Kepala Desa Kuala Bagok, Kabupaten Aceh Timur.

“Kita sudah membantu bermacam-macam bantuan makanan, tenda, & lain sebagainya. Namun sebab mereka belum di- swab kita tidak bisa mendekat, ” kata Jalaluddin, Kepala Dukuh Kuala Bagok.

Jalaludin mengatakan dirinya mendapat informasi bahwa awalnya ada 90 karakter Rohingya yang berangkat di satu kapal. Namun sembilan di antara mereka sudah meninggal dan dibuang ke laut.

Ditambahkan Jalaluddin, dari keterangan yang didapatkan dari orang-orang Rohingya itu, mereka sudah berada di laut selama empat keadaan dengan tujuan Malaysia.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Rahmad

Menurut Chris Lewa, direktur pola non-pemerintah Arakan Project, para pengungsi Rohingya ini mau ke Malaysia.

“Indonesia bukanlah negara tujuan. Namun Nusantara menjadi tempat transit karena tidak bisa mendarat di Malaysia atau tidak mampu sampai ke Malaysia, ” kata Lewa melalui sambungan telepon, pada Januari 2021.

Lewa menengarai peranan jaringan penyelundup untuk membawa para-para pengungsi Rohingya ke Malaysia.

Lewa juga memperkirakan bakal ada kapal-kapal yang mengangkut komunitas Rohingya karena mereka tidak mau dipindahkan ke sebuah pulau yang dipakai sebagai kamp pengungsi.

Artikel ini masih akan terus diperbarui.