Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono, penulis larik puisi “Aku mau mencintaimu dengan sederhana”, meninggal dunia di usia 80 tahun.

Salah satu sastrawan paling termasyhur di Indonesia itu menghembuskan nafas terakhir dalam hari Minggu (19/07) pukul 09: 17 di Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan, lansir kantor berita Antara.

Sapardi dirawat di rumah melempem sejak Kamis lalu karena menurunnya fungsi organ tubuh, menurut laporan tersebut.

Lahir di Surakarta, 20 Maret 1940, Sapardi aktif di belantara sastra Indonesia sejak tahun 1950-an. Sepanjang kariernya, ia pernah menjelma redaktur majalah sastra Horison serta guru besar fakultas Ilmu Sopan santun UI

Sajak-sajak Sapardi telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk gaya daerah.

Salah satu karyanya yang paling populer adalah “Aku Ingin”, yang konon sering digunakan pada undangan perkawinan. Sajak-sajak lainnya yang terkenal yaitu “Hujan Bulan Juni”, “Yang Fana adalah Waktu”, serta “Akulah si Telaga”.

Kepopuleran puisi-puisi tersebut sebagian berkat musikalisasi oleh kira-kira seniman, termasuk Ari Reda, Ananda Sukarlan, hingga band indie Melancholic Bitch.

Línea

Aku ingin mencintaimu dengan sederhanadengan kata yang tidak sempat diucapkankayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu secara sederhanadengan isyarat yang tak sempat disampaikanawan kepada hujan yang menjadikannya tiada

— Sapardi Djoko Damono

Línea

Sapardi tidak hanya aktif menulis puisi tapi juga rencana pendek, novel, esei, dan kunci nonfiksi. Ia juga menerjemahkan bervariasi karya penulis asing, salah satunya Lelaki Tua & Laut karya penulis Amerika Ernest Hemingway.

Kepopuleran Sapardi terang kembali melonjak pada tahun 2010-an, ketika banyak karyanya dicetak ulang. Satu diantara antologi puisinya yang menyesatkan populer, “Hujan Bulan Juni”, sudah diadaptasi menjadi film dan bahkan buku mewarnai.

Sapardi terus aktif berkarya di usia senja. Dalam kira-kira tahun terakhir, ia menerbitkan sebanyak novel, baik orisinal maupun novelisasi dari karya-karya puisinya. Bulan lalu, Sapardi mengumumkan lewat twitter kalau ia tengah menggarap sebuah novela.

Pra harus dirawat karena sakit, Sapardi terbilang aktif di Twitter. Para-para penggemar memanggilnya “eyang”. Menyusul informasi kematiannya, serentak namanya menjadi gaya di Twitter Indonesia, dengan penuh warganet mengungkapkan belasungkawa dan mengutip karya Sapardi favorit mereka.