Hakim Pengadilan Khusus tentang pembunuhan mantan Perdana Menteri Lebanon, Rafik Hariri, menyatakan tidak terlihat bukti keterlibatan pucuk pimpinan kawanan militan Hizbullah dan tidak pula ada bukti keterlibatan langsung negeri Suriah.

Pernyataan hakim itu disampaikan dalam sidang putusan di dalam Selasa (18/08) terhadap empat pria yang diidakwa terlibat dalam pembunuhan mantan Rafik Hariri dan 21 orang lainnya atas insiden pengeboman pada 2005.

Para terdakwa –yang dicurigai sebagai anggota kelompok keras Syiah Lebanon, Hizbullah– diadili dengan in absentia atau sidang tanpa eksistensi terdakwa, oleh pengadilan khusus dalam Belanda.

Salah satu di jarang mereka, Salim Jamil Ayyash, sudah dinyatakan bersalah. Hakim mengatakan Ayyash menyimpan salah satu telepon yang digunakan untuk merencanakan pembunuhan.

Tiga tersangka lainnya, Hassan Habib Merhi, Hussein Hassan Oneissi dan Assad Hassan Sabra dinyatakan tidak bersalah.

Rafik Hariri menentang keras pengaruh Suriah di Lebanon, dan setelah kematiannya dalam pengemboman kecurigaan diarahkan kepada Suriah serta sekutunya, Hizbullah.

Kemarahan atas serangan di Beirut mendesak Suriah menarik pasukannya dari Lebanon setelah 29 tahun.

Hizbullah & pemerintah Suriah pun membantah terlibat dalam serangan tersebut.

Lebih lantaran 220 orang juga diketahui terluka ketika sebuah mobil van menyimpan bom meledak ketika iring-iringan Hariri melewati tepi laut Beirut.

Pembunuhan itu menjadi momen penting bagi Lebanon dan memunculkan aliansi imbangan yang membentuk arah politik Lebanon selama bertahun-tahun.

Putra Hariri, Saad, memimpin gerombolan anti-Syiah, kelompok pro-Barat, dan lalu menjabat sebagai perdana menteri selama tiga periode.

Sidang digelar di Pengadilan Khusus untuk Lebanon yang berlokasi di sebuah desa di tepian Den Haag.

Keberadaan empat terdakwa yakni Salim Jamil Ayyash, Hassan Habib Merhi, Hussein Hassan Oneissi dan Assad Hassan Sabra tidak diketahui.

Tak satu pun dari itu mengomentari sidang tersebut.

Tapi sebelumnya pengacara yang ditunjuk oleh meja hijau menolak tuntutan dalam kasus tersebut. Ia mengatakan putusan itu bergantung pada bukti tidak langsung dengan tidak dapat membuktikan bahwa mereka benar-benar bersalah.

Seperti apa kasus ini?

Di suatu pagi tanggal 14 Februari 2005, Rafik Hariri –yang masa itu menjadi anggota parlemen yang mendukung oposisi di parlemen– melaksanakan perjalanan dengan iring-iringan mobil.

Masa melewati Hotel St George pada Beirut sebuah bom yang disembunyikan di mobil van meledak.

Ledakan tersebut menyebabkan lubang besar di berkepanjangan dan mengakibatkan kendaraan di sekitarnya hangus terbakar dan sejumlah etalase toko menghitam.

Hariri adalah salah utama politikus Sunni paling terkemuka dalam Lebanon dan kematiannya saat itu mendorong seruan agar Suriah mengakui pasukannya yang telah berada pada Lebanon sejak 1976 menyusul dimulainya perang saudara di negara tersebut.

Pembunuhan tersebut mendorong puluhan ribu demonstran ke jalan-jalan sebagai bentuk penolakan terhadap pemerintah yang pro-Suriah.

Besar pekan kemudian, pemerintah menyatakan membatalkan diri dan pada April, Suriah menarik pasukannya.

Setelah pengumpulan data, PBB dan pemerintah Lebanon membina Pengadilan Khusus pada 2007 untuk menyelidiki peristiwa pengeboman tersebut & empat tersangka akhirnya diadili secara in absentia atas tuduhan konspirasi dalam melakukan aksi teror.

Tersangka kelima yakni komandan militer Hizbullah Mustafa Amine Badreddine dicoret lantaran daftar terdakwa setelah dia dibunuh di Suriah pada 2016.

Pendukung Hizbullah lantas membubarkan persidangan dengan dasar proses Pengadilan Khusus untuk Lebanon tidak netral secara politik.

Negara dalam kritis

Oleh Paul Adams, BBC News, Beirut

Lebih dari 15 tahun setelah peristiwa kelam yang berlaku Februari tahun 2005, seberapa penting putusan ini dan disini semuanya bermula.

Beirut masih belum pulih daripada ledakan di sebuah pelabuhan dua minggu lalu. Dampak secara wujud maupun politik terus membayangi.

Seolah itu belum cukup, negara tersebut berada di ambang pengisolasian yang disebabkan Covid-19. Kasus positif menyusun tajam dan warga mulai dilanda kecemasan.

Kemudian terjadi kemerosotan ekonomi yang parah di Lebanon yang semakin cepat sejak akhirusanah semrawut. Mata uang runtuh, pengangguran menyusun dan orang-orang terancam kelaparan.

Jika melihat kerumunan di bandara global Beirut, beberapa warga Lebanon lantaran kelas atas meninggalkan negara itu begitu saja.

Lima belas tahun setelah pembunuhan Rafik Hariri, Lebanon menjelma tempat yang sangat berbeda. Tentara Suriah telah lama angkat menguasai.

Para penentang kelompok itu agak-agak percaya bahwa mereka memiliki andil dalam ledakan yang terjadi di dalam 2005 dan 2020, namun insiden itu seperti cekikan sehingga hanya sedikit yang mengharapkan putusan pengadilan memiliki dampak.

Lihat saja putra bungsu Hariri, Saad. Selama lebih dari satu dekade, dia telah ‘kawin’ dengan organisasi yang dituduh membunuh ayahnya.

Dia telah dua kala menjabat sebagai perdana menteri, pada sebuah koalisi yang di dalamnya termasuk Hizbullah.

Jika dia ingin menjadi perdana menteri lagi, dia membutuhkan dukungan sekali lagi.