• Sarah Atiq
  • BBC News

Sumber gambar, Reuters

Kausa Mei lalu, saat pasukan Amerika Serikat dan NATO mulai menarik pasukan final mereka dari Afganistan, Taliban langsung menggencarkan serangan tentara atas pasukan pemerintah setempat.

Namun, mereka juga melakukan suatu situasi yang langka dilakukan selama berkonflik di Afghanistan: Taliban meluncurkan kampanye di jalan sosial secara komprehensif.

Satu jaringan akun dalam media sosial ini memerhatikan kegagalan rezim di Kelulusan sekaligus memuji pencapaian Taliban.

Baca serupa:

Sebanyak cuitan saat itu menyebarkan kemenangan-kemenangan terkini Taliban awut-awutan terkadang terlalu dini buat disiarkan – sambil menanamkan beberapa tagar, seperti #kabulregimecrimes (yang dilampirkan ke cuitan-cuitan yang menuduh pemerintah Afghanistan melakukan kejahatan perang); #westandwithTaliban (upaya untuk melancarkan sokongan masyarakat akar rumput) serta #ﻧَﺼْﺮٌ_ﻣٌِﻦَ_اللهِ_ﻭَﻓَﺘْﺢٌ_ﻗَﺮِﻳﺐٌ (pertolongan dari Tuhan dan kemenangan sudah dekat).

Tagar-tagar pertama itu setidaknya jadi tren pada Afghanistan.

Sebagai respons, Amrullah Saleh sebagai Pemangku Presiden Afghanistan saat itu memperingatkan militer dan bangsa untuk tidak terpengaruh oleh apa yang ia sebut sebagai “klaim-klaim palsu hasil Taliban di media sosial”.

Dia juga menodong masyarakat untuk tidak membagikan detail operasi militer negeri yang bisa membahayakan keamanan.

Perkembangan itu menunjukkan bahwa Taliban sudah bertukar sikap dari penolakannya pada teknologi informasi dan jalan modern, kini sudah mendirikan elemen-elemen media sosial buat memperkuat pesan mereka.

Bentuk tim khusus medsos

Saat Taliban pertama kali berkuasa di Afghanistan pada 1996, mereka melarang internet dan menyita atau menghancurkan perangkat televisi, kamera, serta video.

Namun dalam 2005, laman resmi Emirat Islam Taliban, ‘Al-Emarah’, diluncurkan dan kini mempublikasi kontennya dalam lima bahasa semrawut Inggris, Arab, Pastun, Sebab, dan Urdu.

Sumber gambar, AFP via GETTY IMAGES

Konten berbentuk audio, video, dan tulisan di kolong pengawasan komisi kebudayaan Emirat Islam Afghanisan (IEA), yang dipimpin oleh juru bicara mereka, Zabihullah Mujahid.

Cuitan pertama Mujahid tepat diblokir Twitter. Namun pada akunnya yang baru, rajin sejak 2017, memiliki lebih dari 317. 000 kawula.

Di bawah pengawasan Mujahid ada satu awak relawan yang khusus mempromosikan idelogi Taliban secara daring.

Kepala tim itu, yang juga direktur media sosial IEA, adalah Qari Saeed Khosty.

Pada BBC, Khosty mengungkapkan bahwa timnya memiliki grup-grup terpisah yang terfokus pada Twitter – yang mengupayakan tagar Taliban jadi tren awut-awutan dan penyebarluasan pesan menggunakan WhatsApp dan Facebook.

“Musuh-musuh kami punya televisi, radio, dan akun-akun terverifikasi dalam media sosial, sedangkan kami tidak punya. Namun awak tetap berjuang lewat Twitter dan Facebook dan bisa mengalahkan mereka, ” cakap Khosty.

Tugasnya adalah, lanjut dia, membawa itu yang sudah bergabung ke Taliban karena ideologinya “ke platform media sosial jadi mereka bisa memperkuat suruhan kami”.

Lebih terfokus ke Twitter

Ada kira-kira 8, 6 juta pemakai internet di Afghanistan serta tiadanya jaringan dan layanan data yang terjangkau masih menjadi kendala utama.

Khosty mengatakan tim medsos IEA memberi insentif 1. 000 Afghani (sekitar Rp164. 000) per bulan buat paket data kepada para-para anggota tim untuk “berjuang di medan perang online”.

Dia mengeklaim bahwa IEA “punya empat studio sempurna dengan perangkat multimedia dengan digunakan untuk meningkatkan penggambaran lewat audio, video, dan digital”.

Sumber gambar, AFP via GETTY IMAGES

Hasilnya adalah video-video propaganda bernas tinggi yang menyanjung para petempur Taliban berikut peperangan mereka atas pasukan asing dan pemerintah, yang cerai-berai luas di akun YouTube mereka dan laman Al-Emarah.

Kelompok itu mempublikasikan konten secara gratis di Twitter dan YouTube, namun Facebook telah mencap Taliban jadi “organisasi berbahaya” dan dengan rutin menghapus akun & laman yang dikaitkan secara kelompok tersebut.

Facebook mengatakan akan terus melarang konten Taliban di platformnya.

Kepada BBC, Khosty mengaku bahwa Taliban pelik untuk menyebarkan publikasi mereka di Facebook, sehingga terfokus ke Twitter.

Sebenarnya Departemen Luar Negeri GANDAR sudah memasukkan Jaringan Haqqani sebagai kelompok teroris internasional. Namun pemimpin mereka, Anas Haqqani, dan banyak anggotanya punya akun di Twitter dan masing-masing punya ribuan pengikut.

Tanpa menyetujui diungkap identitasnya, seorang bagian tim medsos Taliban pada BBC mengungkapkan bahwa mereka memutuskan untuk menggunakan Twitter dalam menyebarkan suatu artikel opini dari harian The New York Times dengan ditulis oleh Sirajuddin Haqqani, wakil pemimpin Taliban, dalam Februari 2020.

Terkait artikel itu dibuatlah sebanyak akun aktif di Twitter.

“Sebagian besar warga Afghanistan tidak mengerti cara Inggris, namun pimpinan pemerintahan Kabul secara aktif berkomunikasi dalam bahasa Inggris dalam Twitter – karena audiens mereka bukan warga Afghanistan melainkan masyarakat internasional, ” ujarnya.

“Taliban mau melawan propaganda mereka & itulah sebabnya kami pula memfokuskan diri pada Twitter. ”

Khosty juga melahirkan akun beberapa anggotanya sudah punya puluhan ribu hamba. Semua anggota diinstruksikan “jangan mengomentari isu-isu kebijakan sungguh negeri negara-negara tetangga yang bisa mengganggu hubungan kita dengan mereka. ”

Di masa lampau, Taliban dikenal bersikap sangat tertutup melanggar identitas pimpinan dan para-para pejuang mereka.

Tak heran bila foto pembuat Taliban, Mullah Omar, sangat langka.

Kini, dalam upaya mendapat legitimasi global, pimpinan mereka tidak cuma tampil di depan jalan massa, namun mereka selalu dipromosikan di medsos.

Sumber gambar, AFP via GETTY IMAGES

Setelah selama tak tampil secara terbuka, Zabihullah Mujahid sebagai juru bicara Taliban tampil di rancangan jumpa pers setelah jatuhnya Kabul ke tangan mereka. Tidak hanya itu, akun-akun Taliban di Twitter biar berganti tampilan profil mereka dengan foto Mujahid.

Sebaliknya, banyak warga Afghanistan yang pernah bekerja buat pasukan internasional, organisasi dan media asing, serta pihak-pihak yang kritis atas Taliban di media sosial saat ini malah membekukan akun mereka, khawatir nanti bakal menjelma target.

Para pegiat hak asasi manusia sejak Amnesty International dan Human Rights Watch mengungkapkan sudah menerima laporan-laporan kelompok Taliban tengah memburu dan diduga membunuh orang-orang sebagai ganjaran.

Sementara itu, Facebook telah meluncurkan fitur “sekali klik” bagi warga dalam Afghanistan agar bisa secara cepat mengunci akun mereka, mencegah siapapun yang tak masuk dalam daftar pertemanan untuk mencari informasi lebih detail atas pemilik akun.

Platform itu pula mengumumkan untuk sementara menghapus fitur yang dapat tahu dan mencari daftar “teman” untuk akun-akun di Afghanistan.

Pertanyaannya adalah apakah Taliban telah berubah serta meninggalkan sifat brutal yang melekat pada kelompok itu.

Banyak pihak dalam Afghanistan dan di seluruh dunia masih tidak membenarkan akan janji kelompok tersebut untuk berubah.

Namun, mereka tampaknya sudah menyadari bahwa beberapa elemen teknologi, yang dulu mereka hindari, kini bisa membantu mereka dalam upaya membentuk paham di panggung internasional.

“Media sosial merupakan cara yang kuat untuk mengganti persepsi publik, ” logat seorang anggota tim medsos Taliban.

“Kami mau mengubah persepsi soal Taliban, ” katanya.